Pantauan di ruang rapat pleno di lantai II kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Jakpus, Rabu (23/4/2014). Hingga pukul 23.00 WIB, rekapitulasi sudah berlangsung untuk 24 perwakilan negara, yaitu PPLN Kuwait.
Rapat pleno masih dihadiri 12 perwakilan parpol, termasuk perwakilan KPU DKI, Bawaslu termasuk Pokja PPLN yang sibuk membongkar berkas hasil rekapitulasi dari setiap perwakilan.
Tampak tumpukan surat suara yang semula terbungkus rapih paket jasa layanan kirim seperti DHL, FedEx, TNT dan lainnya kini sudah dibuka dan berhasil direkap.
Nah, sepanjang merekap hasil penghitungan suara itu, tampaknya saksi dari PDIP menjadi saksi yang paling getol menyampaikan keberatan ataupun protes.
Protes yang paling keras dan sempat terjadi perdebatan adalah soal surat suara via pos yang tak dikembalikan pemilih, tapi tak diklasifikasi khusus oleh KPU. Sehingga disebut potensi dicurangi.
Bahkan, untuk 1 suara saja yang dianggap kurang penjelasan mereka protes. Seperti saat rekap suara dari PPLN Kabul di Afganistan yang pemilihnya hanya 8 orang.
"Surat suaranya 31 tapi pemilihnya hanya 30?," kata perwakilan PDIP Agustina Tio.
"Jadi seluruh surat suara yang diterima adalah 30 ditambah 1 cadangan. Dan 1 cadangan itu terpakai sehingga menjadi 31," timpal ketua KPU Husni Kamil Manik.
"Kalau yang sedikit-diki ini pasti akurat. Hehe," imbuhnya sedikit berkelakar.
Pada hasil rekap PPLN Kabul, seperti mayoritas hasil penghitungan lain, PDIP mendapat suara signifikan.
Di PPLN Kabul ini PDIP dapat 8 suara, NasDem 2 suara, PKB 1 suara, PKS 5 suara, Gerindra 4, Demokrat 5, PAN 2 dan PPP 3. Sisanya 0.
Protes dan keberatan turut dilontarkan perwakilan parpol lain, meski tak segetol PDIP. Hingga pukul 23.30 WIB, proses rekapitulasi sudah mulai memasuki perwakilan Kuala Lumpur.
(iqb/rvk)











































