RI Sampaikan 4 Aksi Konkrit di Ocean Action Summit

Laporan dari Den Haag

RI Sampaikan 4 Aksi Konkrit di Ocean Action Summit

- detikNews
Rabu, 23 Apr 2014 23:12 WIB
RI Sampaikan 4 Aksi Konkrit di Ocean Action Summit
Den Haag - Di Den Haag saat ini sedang berlangsung Global Ocean Action Summit (GOAS) for Food Security and Blue Growth (KTT Aksi Kelautan Global untuk Keamanan Pangan dan Pertumbuhan Biru), 22-25 April 2014.

Empat usulan aksi konkrit disampaikan Indonesia melalui Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sharif Cicip Sutardjo dalam sesi paripurna di World Forum, Den Haag, pada hari pertama, Selasa (22 April 2014).

Usulan-usulan aksi konkrit itu antara lain pendekatan integratif, pemerintahan yang kuat, peningkatan akses pasar sekaligus mengurangi inefisiensi dalam proses pasca panen dan perdagangan.

"Juga perlu ketersediaan mekanisme pembiayaan yang tepat sebagai katalis bagi terciptanya pertumbuhan biru," ujar Menteri.

Ekonomi Biru adalah konsep yang digagas oleh Gunter Pauli, sebagai langkah lanjut setelah Ekonomi Hijau. Konsep ini intinya memanfaatkan ketersediaan alam yang terbatas dan teknologi berorientasi pelestarian alam, menghemat biaya produksi dan konsumsi, memperbaiki kualitas hidup manusia dan makhluk alam, mengurangi risiko lingkungan hidup demi eksistensi dan keharmonisan manusia dan alam lingkungannya.

Menurut Menteri, kebijakan Indonesia di bidang kelautan dan perikanan saat ini sudah didasarkan pada konsep ekonomi biru dimaksud.

Kebijakan ini sejalan dengan apa yang telah disampaikan oleh Presiden RI pada sesi paripurna Konferensi PBB mengenai Pembangunan Berkelanjutan di Rio de Janeiro (Juni 2012), yang menyebutkan bahwa ekonomi biru adalah ambang berikutnya, yang akan memungkinkan pengoptimalan serta penyeimbangan antara pelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Sebelumnya usulan aksi-aksi konkrit ini telah dirumuskan dalam Konferensi Regional Asia mengenai Kelautan yang telah diselenggarakan di Bali pada Juni 2013 lalu.

Menteri juga melaporkan penyelenggaran Konferensi di Bali tersebut sebagai persiapan menuju KTT Aksi Kelautan Global di Den Haag, yang akan berlangsung sampai 25 April 2014.

Indonesia-Belanda

Sementara itu, Indonesia dan Belanda di sela-sela KTT Aksi Kelautan Global juga telah meluncurkan kerjasama "Perikanan dan Budidaya untuk Ketahanan Pangan di Indonesia" pada 22 April 2014.

Keterangan pers KBRI Den Haag menyebutkan bahwa kerjasama yang melibatkan partisipasi dari Wageningen University ini juga sejalan dengan MoU mengenai Kerjasama Perikanan dan Budidaya antara Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dengan Kementerian Ekonomi Kerajaan Belanda.

MoU ditandatangani oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI dan Menteri Pertanian Belanda saat kunjungan Perdana Menteri Belanda ke Jakarta 20 November 2013 lalu.

Kerjasama ini merupakan tindak lanjut dari KTT Aksi Kelautan Global, di mana aksi dan kemitraan adalah tema utama kegiatan, juga fokus pada peningkatan ketersediaan, dan aksesibilitas untuk ikan dan produk ikan yang aman bagi konsumen, menjamin kualitas yang baik dan mengurangi limbah pada sektor perikanan.

Kerjasama ini diyakini akan memberikan kontribusi bagi pertumbuhan biru di Indonesia.

Keamanan Pangan

Selama KTT Aksi Kelautan Global untuk Keamanan Pangan dan Pertumbuhan Biru di Den Haag, 22-25 April 2014, Indonesia hadir dengan delegasi yang kuat.

Indonesia juga menyelenggarakan kegiatan samping Sharing Knowledge: Good Governance-Supporting Food Security and Blue Growth dan menampilkan pameran bertajuk Blue Growth to Support Food Security di World Forum, di mana KTT diselenggarakan.

Melalui pameran tersebut, Indonesia mempresentasikan kepada publik mengenai implementasi ekonomi biru, Komunike Bali yang dihasilkan pada Konferensi Regional Asia mengenai Kelautan, Keamanan Pangan, dan Pertumbuhan Biru di Bali, Ekspedisi Internasional Samudera Hindia untuk penelitian mengenai tuna di selatan Pulau Jawa, dan Konferensi Batu Karang Dunia di Manado (14-17 Mei 2014).

Informasi mengenai Sail Raja Ampat Juni 2014 juga disampaikan selama pameran.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia di mana 70% dari wilayahnya terdiri dari air, Indonesia memiliki kepentingan dan tanggungjawab besar untuk mengelola laut dan hasil laut secara berkelanjutan.

Dalam pengelolaan kekayaan kelautan dan perikanan, pemerintah Indonesia mendasarkan pada konsep ekonomi biru sebagaimana telah dinyatakan oleh Presiden RI pada sesi paripurna Konferensi PBB mengenai Pembangunan Berkelanjutan di Rio de Janeiro (Rio+20 Summit), Juni 2012.

Penyelenggaraan Pameran Indonesia ini juga diinformasikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan kepada semua peserta KTT pada saat menyampaikan pernyataan pada 22 April 2014.

KTT Aksi Kelautan Global di Den Haag ini dihadiri oleh 101 negara dan sekitar 182 organisasi internasional termasuk 16 badan-badan PBB serta LSM.




(es/es)


Berita Terkait