Ekonom: Indonesia Butuh Presiden Pencipta Solidaritas

Ekonom: Indonesia Butuh Presiden Pencipta Solidaritas

- detikNews
Minggu, 20 Apr 2014 15:05 WIB
Ekonom: Indonesia Butuh Presiden Pencipta Solidaritas
Jakarta - Indonesia membutuhkan sosok calon presiden dan wakil presiden yang memiliki karakter solidarity makers (pencipta solidaritas) serta piawai dalam administator keuangan. Kalau ini bisa diterapkan, maka presiden dan wakil presiden terpilih mendatang memiliki karakter saling melengkapi.

Hal tersebut disampaikan pengajar ekonomi politik Universitas Indonesia Vishnu Jowono, yang menambahkan sejak era Reformasi belum ada sosok pemimpin yang kuat. Karakter saling melengkapi selama era Reformasi sulit ditemukan dalam pasangan pemimpin bangsa. Padahal, dua karakter, yakni solidarity makers dan administrator, ini menjadi penopang untuk kepemimpinan negara yang multikompleks.

"Itu idealnya dibutuhkan solidarity makers dan teknokratik administrator yang bagus dalam ekonomi. Cuma direfleksikan nanti dalam calon presiden dan wapres belum tahu seperti apa. Kayak Soekarno itu punya solidarity makers dengan pendampingnya Hatta yang bagus dalam administrator," kata Vishnu dalam diskusi 'Capres-Cawapres Jawa/Luar Jawa, Paduan Popularitas Plus Kompetensi dan Integritas' yang digelar di Plaza 3 Pondok Indah, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu (20/4/2014).

Menurut Vishnu, sosok yang sudah memiliki karakter solidarity makers adalah Jokowi. Adapun Prabowo sudah mendekati sosok solidarity makers, karena dari berbagai survey, dia selalu unggul dibandingkan capres lain. Hanya sejak Jokowi masuk, nama Prabowo selalu nomor dua di bawah mantan Walikota Solo itu.

Kedua tokoh ini dianggap sudah memiliki solidarity makers. Dia menekankan hal penting yang diperlukan sekarang adalah penyesuaian sosok cawapres. Cawapres yang bisa diprioritaskan Jokowi dan Prabowo antara lain Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, hingga Wakil Gubernur DKI Basuki Thajaja Purnama alias Ahok.

"Sri Mulyani bagus karena mampu reformasi di Kemenkeu, punya jaringan internasional. Agus Marto ngerti ekonomi makro. Nah, kalau Ahok terbukti sudah chemistry dengan Jokowi di DKI," sebutnya.

Meski demikian, Vishnu melihat dari beberapa nama tersebut terdapat kekurangan. Misalnya, sosok Sri Mulyani punya kekurangan karena tersandera dengan kasus Bank Century. Begitupun Ahok karena kalau dipasangkan dengan Jokowi maka suara partai Islam sulit diraih.

"Nama-nama ini bisa menjadi alternatif. Tapi, tergantung bagaimana nantinya," ujar peraih Master dari Columbia University tersebut.

Lebih lanjut, sosok cawapres menurutnya adalah sosok baru yang bisa mewakili adanya regenerasi tokoh. Yang lebih penting punya kompetensi, bisa memprioritaskan persoalan ekonomi bangsa dan menghindari kepentingan oligarki.

"Sekarang itu capres jawa/cawapres luar jawa, nasionalis/Islam sudah enggak jamin. Buktinya SBY-Boediono bisa menang di Pilpres 2009. Yang punya kompeten bagus, itu lah yang harus dipilih," sebutnya.

(hat/vid)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads