100 Hari Wafatnya Munir, Polisi Belum Tetapkan Tersangka

100 Hari Wafatnya Munir, Polisi Belum Tetapkan Tersangka

- detikNews
Rabu, 15 Des 2004 07:54 WIB
Jakarta - Seratus hari sudah Munir meninggalkan dunia fana ini. Dugaan pejuang HAM ini diracun kian kuat. Namun polisi tak kunjung menetapkan tersangka.Munir meninggal di pesawat Garuda dalam perjalanan menuju Belanda pada 7 September 2004. Selang 2 bulan kemudian, dugaan kuat Munir dibunuh dengan diracun baru mencuat pada 11 November 2004 setelah hasil otopsi yang dilakukan Pemerintah Belanda terkuak. Hasil otopsi menunjukkan adanya arsenicum di tubuh Munir dengan dosis mematikan.Penyelidikan pun mulai dilakukan Mabes Polri. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta polisi untuk segera mengungkap fakta di balik wafatnya Munir.Tapi hingga hari ini, Rabu (15/12/2004), tepat 100 hari wafatnya Munir, penyelidikan kasusnya masih buntu. Dari 86 saksi yang telah diperiksa, penyidik belum mengetahui racun arsen tersebut dikonsumsi dalam bentuk apa. Penyidik juga belum dapat menyimpulkan Munir diracun kapan dan di mana.Istri Munir, Suciwati menyesalkan tidak adanya perkembangan dalam penyelidikan kasus tersebut. Menurutnya, dalam kurun waktu yang cukup lama ini, seharusnya sudah ada tersangka.Namun polisi sebelumnya beberapa kali menuturkan sulitnya menemukan petunjuk maupun barang bukti. Sebab racun arsenicum yang menjadi penyebab kematian Munir diperjualbelikan bebas di pasaran.Beberapa petunjuk yang mengemuka menemui jalan buntu. Pasalnya, dugaan Munir tewas karena dibunuh baru mencuat 2 bulan setelah kematiannya. Walhasil, penelusuran barang bukti pun mandek.Sebut saja ketika polisi berinisiatif hendak melacak ceceran arsenicum di tubuh pesawat Garuda. Hasilnya nihil karena pesawat itu sudah pernah dibersihkan.Begitu juga ketika keterangan seorang saksi mengarahkan pada pertemuan Munir dengan 2 pria saat transit di Bandara Changi Singapura. Saat polisi ingin mendapatkan rekaman CCTV bandara untuk melihat rupa kedua pria tersebut, apa daya, rekaman CCTV bandara sudah dihapus. Menurut prosedur bandara, jika dalam waktu 2 minggu tidak ada masalah, maka otomatis rekaman akan terhapus.Sebuah nama pun mencuat. Dia adalah Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang didalami polisi. Polly bahkan disebut-sebut memiliki pistol berjenis P-2 Double Aaction buatan Pindad. Izin penggunaan pistol dikeluarkan oleh Badan Intelegen Negara (BIN) sejak 10 Febuari 2004 hingga 31 Desember 2004.Pistol tersebut dikeluarkan berdasarkan daftar administrasi BIN bernomor210, dengan nomor register AC.000018xxxx. Pistol tersebut menurut situsresmi PT Pindad memiliki kaliber 9 x 19 mm dengan sejumlah keunggulan,seperti kompak, performa tinggi, ketahanan tinggi, handal, dan cocok untukmiliter maupun polisi.Namun Polly melalui pengacaranya Suhardi Somomuljono berkali-kali membantahnya dan menyebutnya itu sebagai fitnah untuk mencari kambing hitam kasus Munir.Polri pun mendalami informasi itu ke BIN. Sebab jika Polly benar hanya warga sipil, maka izin kepemilikan senjata hanya dikeluarkan oleh Polri, bukan BIN.Tapi jika pun izin kepemilikan senjata Polly ilegal, polisi masih kesulitan menarik kesimpulan terhadap kasus wafatnya Munir. Selain disebut sebagai kasus yang terpisah, polisi mengaku masih fokus pada analisa penyebab kematian Munir.Sekadar mengingatkan, wafatnya Munir terjadi saat 100 hari pemerintahan SBY-JK masih berjalan. Sebuah ujian bagi SBY-JK untuk menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus HAM. Tidak hanya untuk negeri ini, tapi juga dunia yang menyoroti tewasnya seorang pejuang HAM Indonesia.Akankah kasus Munir terungkap dalam batas waktu 100 hari pemerintahan SBY-JK yang jatuh pada akhir Januari 2005? Atau mungkin akan sirna ditelan waktu? Dan pada akhirnya sang pembunuh Munir melenggang dengan senyum kemenangan?Tentu saja bukan itu yang diharapkan. Seratus hari wafatnya Munir bisa saja menjadi peringatan bagi polisi atas seratus hari jalannya pemerintahan SBY-JK. Pengungkapan kasus Munir tentu akan masuk dalam daftar 'tagihan'.Sebuah kalimat bijak yang menjadi pegangan Munir semasa hidupnya akan menjadi renungan indah bagi kita semua. "Kita harus lebih takut kepada rasa takut itu sendiri, karena rasa takut menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita". (sss/)


Berita Terkait