Panglima TNI Merasa Dipelintir Soal 'Maaf', Ini Transkrip Wawancaranya

Panglima TNI Merasa Dipelintir Soal 'Maaf', Ini Transkrip Wawancaranya

- detikNews
Kamis, 17 Apr 2014 17:30 WIB
Panglima TNI Merasa Dipelintir Soal Maaf, Ini Transkrip Wawancaranya
Jakarta - Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko merasa dipelintir oleh wartawan Singapura terkait kata maaf dalam wawancara soal penamaan KRI Usman-Harun. Bagaimana percakapan mereka sebenarnya?

Dalam rilis yang dikirim kepada detikcom, Kamis (17/4/2014), Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya menyebut koresponden Channel News Asia salah menafsirkan terkait penamaan KRI Usman-Harun. Dia pun menilai berita berjudul “Indonesian Armed Forces Chief Expresses Regret Over Naming of Warship” itu kurang akurat.

Wawancara dilakukan pada 15 April 2014 lalu di kediaman Jenderal Moeldoko. Hasilnya kemudian ditayangkan beberapa jam kemudian dan dikutip media-media Singapura dengan judul berita “Panglima TNI: Permintaan maaf ke Singapura”.

Berdasarkan hasil rekaman wawancara, Fuad mengirim transkrip wawancara keduanya. Berikut salah satu kutipan pertanyaan dan jawaban Panglima TNI:

Koresponden Channel News Asia : Soal yang terakhir bapak, saya kembali pada Bilateral tadi, jadi ke depan masih juga Indonesia (TNI) penamaan kapal itu diteruskan juga dan dua SAF dan TNI sudah ada komunikasi? Dan Low Intensity situation ini tidak akan keluar dari jalur yang sewajarnya.

Jawaban Panglima TNI: Saya pikir itu sebuah keputusan kami bahwa Usman- Harun tetap penamaan itu dan sekali lagi mohon maaf bahwa apa yang telah kami pikirkan tidak sama sekali berkaitan dengan membangun emosi kembali, tidak. Yang kedua, bahwa hubungan kedua negara telah ada recovery pendekatan-pendekatan antara Pimpinan, antar Leader, antara saya dengan Panglima SAF dan kondisi sekarang sudah menuju ke Low intensity emosi, saya kira ini harus dijaga, tidak perlu lagi dari rekan rekan dari Singapura melakukan hal hal yang tidak produktif, kami juga seperti itu, Saya kira kita pada posisi yang saling menjaga, saling menghormati dan saling percaya.

Pernyataan Panglima TNI tersebut di atas ditafsirkan sebagai permintaan maaf. Padahal, kata Fuad, maksudnya adalah permohonan maaf atas tidak dipenuhinya permohonan penangguhan penamaan KRI Usman-Harun yang sudah final dan tidak akan berubah.

"Sekali lagi bukan permohonan maaf Panglima TNI kepada pemerintah Singapura atas penamaan KRI tersebut," tegasnya.



(mad/ndr)


Berita Terkait