Pengamat: Kalla Ketum Golkar, Demokrasi Terancam

Pengamat: Kalla Ketum Golkar, Demokrasi Terancam

- detikNews
Selasa, 14 Des 2004 17:09 WIB
Jakarta - Majunya Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai kandidat ketua umum Partai Golkar dikritik banyak pihak. Pasalnya, bila Kalla terpilih maka demokrasi diperkirakan terancam."Kalau Kalla sampai menang maka itu bisa merusak konsolidasi demokrasi," kata Sukardi Rinakit, pengamat politik dari Sugeng Sarjadi Sindicate (SSS), dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (14/12/2004).Selain itu, lanjut Sukardi, bila Kalla terpilih maka pemerintah bisa menjadi otoriter. "Golkar akan dibawa ke arah pemerintah akan monolit dan ujungnya ke arah otoriter," tandasnya.Ia menambahkan, pencalonan Kalla ini justru bisa mengarah pada perpecahan partai. "Partai akan terbelah menjadi dua kubu besar yakni Akbar dan Kalla," tegasnya. Sikap Kalla tersebut, menurutnya bukan contoh baik dalam membangun demokrasi di Indonesia. "Seharusnya pemimpin negara itu mengajarkan politik yang baik. Janganlah ikut campur lagi dalam urusan pemilihan ketua partai," tukasnya.Kemunculan Kalla dalam bursa kandidat ketum ini, Sukardi menilai sebagai bentuk intervensi pemerintah. "Ini membuktikan pemerintah terlalu khawatir terhadap posisi koalisi kebangsaan.""Dan kalau dia (Kalla) sampai menang maka proses check and balances akan hilang. Tentu saja tidak ada lagi kekuatan besar yang mengontrol pemerintah," kata Sukardi.Dirinya memrediksi Akbar Tandjung masih akan mengungguli Kalla dalam voting mendatang. "Selain pengaruh Akbar kuat di partai, teman-teman di DPR tentu akan khawatir kalau Kalla yang menang karena bisa direcall. Dan mereka pasti akan mengambil ancang-ancang untuk melawan Kalla. 55 banding 45 untuk kemenangan Akbar," tutur Sukardi.Namun, bila Agung yang justru muncul menjadi kandidat, Sukardi berpendapat voting akan berlangsung ketat. "Akbar hanya akan didukung suara dari kubu Slamet Effendy. Sedangkan Agung akan didukung kekuatan Wiranto, Paloh dan Marwah Daud.""Sulit diprediksi kalau head to head antara Akbar dengan Agung. Peluangnya fifty-fifty," demikian Sukardi. (ton/)


Berita Terkait