"Pendamping Pak Jokowi musti komplementer melengkapi kekurangannya, paling ideal didampingi ekonom yang matang birokrasi," kata staf pengajar pasca sarjana Ilmu Komunikasi politik Universitas Dipenogoro (Undip), Ari Junaedi saat dihubungi, Selasa (15/4/2014).
Yang mendesak saat ini, menurut Ari, prioritas mesti dilihat pada aspek keterwakilan ruang karena wilayah Indonesia begitu luas sehingga semua warganegara akan merasa nyaman. Namun, kompetensi dan track record figur yang mendampingi mesti jadi pertimbangan utama.
"Figurnya mesti memiliki kemampuan, bersih dan mewakili semangat zamannya yaitu mereka yang muda karena relatif tidak memiliki resistensi besar," terangnya.
Apakah figur itu sebaiknya partisan suatu parpol tertentu? Ari mengatakan, soal itu tergantung kepada tiket Jokowi untuk maju ke pemilihan Pilpres.
"Memang untuk aman sebaiknya PDIP memegang tiket pencalonan 28 persen sehingga bila terjadi margin eror satu persen tetap lolos. Tapi, tidak bisa memaksakan duet karena mesti dihitung variabel komplementer," katanya.
Karena itu, jika kandidat yang ada memiliki kesamaan dengan Jokowi, mesti dicari figur alternatif yang disepakati kedua belah pihak buat mendampingi.
"Ingat masa mendatang pemerintahan akan begitu dinamis, jadi pemerintahan yang terbentuk mesti memberikan suatu perubahan ke arah yang baik dalam waktu yang secepatnya," imbuhnya.
(fiq/kha)











































