"Yang pasti bisa bekerja sama, tidak transaksional, koalisi kita belajar dari apa yang terjadi, kasihan kan seperti yang terjadi di Setgab dengan Pak SBY," kata Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait di Jl Teuku Umar, Menteng, Jakpus, Selasa (15/4/2014).
Menurut Maruarar, banyak hal yang tidak etis di dalam Setgab. Meski dalam sebuah pemerintahan, toh suara partai-partai pengusung justru sering kali tidak seragam.
"Contoh century, BBM dan mafia pajak. Kita belajar dari situ," lanjutnya.
Hal yang sangat normatif justru muncul dari anggota tim sukses Jokowi, Andi Widjojanto. Pengamat intelijien ini mengatakan Jokowi hanya ingin memastikan suara PDIP cukup untuk mengusung capres-cawapres sendiri.
"Sesuai dengan ketentuan UU, berarti 20 persen kursi atau 25 suara nasional sesederhana itu. Memang hanya itu yang dicari," kata Andi dalam waktu terpisah.
Menurut Andi, PDIP melihat dari sudut pandang berbeda suatu koalisi. Kerjasama antar partai itu bukan otomatis bisa menentukan pasangan Jokowi.
"Dilihat bertahap, mengusung capres-cawapres satu hal, nanti memikirkan penguatan parlemen hal lain, dan pembentukan penguatan pemerintah hal lain. Kalau yang dilakukan partai lain itu kan satu paket semuanya," tegas Andi.
(mok/rvk)










































