"Ini kan mayoritas yang diulang jenis kabupaten atau kota. Memang terlalu banyak yang itu (golput). Kalau yang suara DPR enggak seberapa besar," kata Nasrullah di Gedung Bawaslu, Selasa (15/4).
Dia mengatakan Pemilu ulang memang sudah diprediksi mengingat kesulitan jangkauan wilayah untuk logistik di beberapa daerah Indonesia Timur. Hal ini ditambah dengan persoalan "nakalnya" pihak yang mengakali pencoblosan kertas suara sebelum dilakukan pemungutan suara. Belum lagi kesalahan tertukarnya kertas suara di berbagai daerah pemilihan.
"Ada tiga surat suara yang jadi patokan saat pencoblosan. Tapi, mungkin karena diulang, masyarakat malas datang ke TPS," sebutnya.
Nasrullah pun berharap sejumlah persoalan dalam Pemilu Legislatif yang diulang di berbagai daerah bisa segera diselesaikan. Salah satu persoalan menurutnya yaitu batas akhir waktu pencoblosan ulang hari ini harus dimaksimalkan agar tidak mengganggu proses rekapitulasi perhitungan suara tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dari 13 sampai 17 April 2014.
Dia tidak ingin problem-problem ini terus bergentayangan hingga Pemilu Presiden dan di bawa ke Mahkamah Konstitusi. "Jangan sampai problem-problem atau sampah-sampah yang di bawa begitu banyak ke Mahkamah Konstitusi," ujarnya.
(hat/erd)










































