"Tahun lalu harga 6 paket Rp 6 jutaan, sekarang jadi Rp 14 juta," kata Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listiyarti dalam jumpa pers di gedung YLBHI, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa (15/4/2014).
Retno mengatakan, naiknya harga jawaban UN tersebut karena tahun ini tak hanya dijadikan sebagai penentu kelulusan, namun juga tiket masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Harga tersebut juga bervariasi sesuai tingkat kebenaran jawaban.
"Kalau pingin sekedar lulus, 60% betul. Kalau untuk masuk PTN 80% betul atau
100% betul. Semakin banyak jawaban betul semakin mahal harganya," papar Retno.
Perempuan yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SMAN 76 ini mengatakan, meskipun mahal siswa tetap banyak yang membeli jawaban. Mereka iuran dengan nominal variatif kemudian jawaban disebar ke seluruh siswa yang mau membayar.
"Patungan tiap siswa antara Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu," katanya.
Pembayaran dilakukan melalui koordinator yang disusun bertingkat. Yaitu dari koordinator kelas, jurusan, sekolah, wilayah hingga koordinator pusat yang itu semua tidak diketahui pihak sekolah. Beberapa transaksi dilakukan di restoran siap saji.
"Mereka memberi jaminan uang kembali jika soal dan jawaban tidak sinkron," kata Retno.
Menurutnya, para siswa yakin dengan pemberi kunci jawaban karena sebelumnya telah terbukti. Saat pelaksanaan try out yang soalnya disusun oleh Dinas Pendidikan setempat, jawaban yang diberikan cukup valid. Nilai-nilai para siswa yang menerima jawaban itu juga cukup bagus.
"Jadi mereka percaya saat UN jawabannya juga akan valid," ujarnya.
(kff/sip)











































