Duh, Calon-calon Ketua Umum Golkar dari Generasi Senja
Selasa, 14 Des 2004 13:07 WIB
Jakarta -
Sejumlah tokoh sudah mencalonkan diri menjadi ketua umum Golkar periode 2004-2009. Setidaknya, ada lima tokoh yang serius dan mengklaim mendapat dukungan signifikan. Sayangnya, lima tokoh ini, maaf, sudah berusia senja (tua). Kelima tokoh ini adalah M Jusuf Kalla (62 tahun), Akbar Tandjung (59 tahun), Wiranto (57 tahun), Slamet Effendy Yusuf (56), dan Agung Laksono (55). Sebenarnya, ada satu tokoh lagi yang mencalonkan diri yang berusia di bawah 50 tahun, tapi tampaknya kurang mendapat dukungan, yaitu Marwah Daud Ibrahim (48 tahun). Munculnya tokoh-tokoh generasi lama untuk memperebutkan posisi ketua umum Golkar ini disayangkan oleh kader Golkar yang telah dinonaktifkan sebagai wasekjen DPP Partai Golkar, Muchyar Yara. "Jika tokoh-tokoh tua ini yang menjadi ketua umum, maka Golkar tidak akan diuntungkan sama sekali," kata Muchyar saat dihubungi detikcom, Selasa (14/12/2004). Menurut Muchyar, sudah saatnya Golkar berani menampilkan calon ketua umum yang berusia di bawah 50 tahun. "Bila ketua umum Golkar berumur 50 tahun, maka pada 2009, usianya 55 tahun. Usia itu merupakan usia batas atas untuk cocok menjadi presiden. Kalau di atas itu, sudah terlalu tua," ungkapnya. Dia menilai, majunya tokoh-tokoh tua sebagai kandidat ketua umum Golkar menandakan bahwa mereka haus kekuasaan dan masih ingin mendominasi Golkar. "Seharusnya, mereka mendorong munculnya kader-kader muda," ungkapnya. Karena itulah, Muchyar tidak menaruh harapan apa pun terhadap Munas Golkar yang akan digelar di Hotel Westin, Bali 15-20 Desember 2004 nanti. "Saya sudah tidak sepatutnya menaruh harapan pada Munas Golkar. Siapa pun yang terpilih sebagai ketua umum, sama saja," ungkap politisi yang pernah menjadi juru bicara Badan Intelijen Negara (BIN) ini. Muchyar juga mempermasalahkan DPP dan panitia Munas yang tidak memberi kesempatan kepada para pengurus DPP Golkar yang dinonaktifkan atau dipecat. Padahal, seharusnya, sesuai AD/ART, para pengurus yang nonaktif diberi kesempatan untuk memberikan pembelaan di depan Munas. "Bila tidak diberi kesempatan, maka itu telah melanggar AD/ART," ujarnya. Karena itu, Muchyar menilai, Munas Golkar di Bali ini merupakan awal kemunduran partai beringin ini.
(asy/)










































