"Demokrasi tak usah banyak bicara. Kalau kebanyakan parpol, tidak ada yang bisa mendirikan kerajaan dengan majority sendiri. Tapi bagusnya timbul keragaman untuk bekerjasama. Supaya mereka mendapat 50 persen untuk meraih suara rakyat," ujar Mahathir.
Hal ini dia ungkapkan saat menjadi pembicara bersama CEO Trans Corp Chairul Tanjung dalam Ceramah Umum 'Malaysia-Indonesia: Dulu, Kini dan Selamanya' di Auditorium Menara Bank Mega, Jl Kapt P Tendean Kav 12-14A, Jaksel, Senin (14/4/2014).
Menurutnya, calon pemimpin negara yang diajukan cukup satu saja namun yang didukung oleh semua partai. Pria berusia 89 tahun itu juga mengungkapkan sebaiknya koalisi antar partai dilakukan jauh-jauh hari sebelum pemilu berlangsung.
"Satu saja calon untuk mewakili dan disokong 3 partai besar sehingga kemungkinan menang tinggi. Koalisi ini dapat kemenangan yang lebih dari 20 persen untuk mendirikan kerajaan. Selain itu, bagusnya partai-partai itu melakukan koalisi sebelum pemilu berlangsung," jelas Mahathir.
"Kalau negara demokratik yang maju biasanya ada 2 partai saja. Tetap satu yang maju sebagai pemenang. Untuk mencairkan sistem demokrasi. Kalau semua tumbuh partai besar aturlah koalisi supaya bisa muncul satu calon yang disokong suaranya oleh partai lain agar mencukupi 50 persen," lanjutnya.
Dia mengatakan apabila kehidupan partai politik di suatu negara terlalu hedonis, maka akan muncul beberapa partai besar dan partai kecil. Menggabungkan keduanya (koalisi) sangat mungkin terjadi, meskipun besar potensi gesekan yang ditimbulkannya.
"Apabila tidak ada mencukupi, partai besar dan partai kecil akan married. Tapi partai besar ini terancam. Jadi partai besar takut sama partai kecil. Partai kecil juga meminta jabatan-jabatan strategis ke partai besar. Kehidupan mereka tidak stabil. Itu lah kegagalan partai besar yang membuat banyak pengikutnya tidak senang," tutup Mahathir.
(mad/mad)











































