Pelaku Pelecehan Siswa TK Internasional di Jaksel 5 Orang Cleaning Service

Pelaku Pelecehan Siswa TK Internasional di Jaksel 5 Orang Cleaning Service

- detikNews
Senin, 14 Apr 2014 16:02 WIB
Jakarta - Seorang bocah berusia 5 tahun yang bersekolah di sebuah TK internasional di kawasan Jakarta Selatan menjadi korban kekerasan seksual. Pelaku adalah lima orang petugas cleaning service di sekolah tersebut.

Ibunda korban mengatakan, saat ini polisi telah menahan 2 pelaku yang merupakan petugas cleaning service dari sebuah outsourcing yang dipekerjakan di sekolah tersebut.

"Anak saya bilang pelakunya itu lebih dari dua orang. Dia bilang 'many mommy. Five'. Hanya saja saya belum tahu pasti apakah kelimanya ini laki-laki atau ada perempuan juga karena menurut anak saya ada wanita juga yang ikut memukul anak saya," jelas Sang Bunda kepada wartawan di Jakarta, Senin (14/4/2014).

Sang Bunda terkejut bukan kepalang mendengar pengakuan anaknya itu. Apalagi anaknya selalu mengaku orang yang 'mengerjainya' tidak pernah satu orang.

"Dia bilang (pelakunya-red) 'sometimes two, sometimes three'. Tidak pernah bilang 'one'," ucapnya.

Sang Bunda mengungkapkan, saat ini polisi sudah menahan 2 orang tersangka bernama Firziawan dan Agun. Keduanya adalah petugas outsourcing cleaning service yang dipekerjakan di sekolah tersebut.

Sang Bunda mengatakan kedua pelaku ini teridentifikasi setelah satpam dari pihak sekolah ikut membantu mengungkap kasus tersebut. Semula, Sang Bunda tidak mengetahui pelakunya lantaran anaknya tidak mengatakan nama si pelaku.

"Anak saya tidak tahu namanya. Kemudian saya datang ke sekolahnya, lalu satpamnya membantu, dia bilang 'bu tanyakan ke anak ibu, pelakunya pakai baju apa'," kata Sang Bunda.

Mengingat kondisi psikologi anaknya yang trauma, Sang Bunda pun menanyakan hal ini kepada anaknya secara perlahan. Hingga akhirnya, putra sulungnya itu menceritakan sosok si pelaku.

"Lalu anak saya bilang seragamnya warna blue, lalu dia bilang semua pakai celana. Saya bingung karena anak saya bilang she tetapi pakai celana. Kemudian saya tanyakan ke pihak sekolah dan pihak sekolah lalu bilang memang di situ petugas yang seragamnya warna biru semua itu ada gardener dan cleaning service," jelasnya.

Saat itu Sang bunda belum tahu pasti siapa pelaku pelecehan yang dimaksud anaknya. Hingga kemudian ia mengundang satpam sekolah untuk datang ke rumahnya dan membawa serta foto-foto tukang kebun dan cleaning service di sekolah, berikut jadwal mereka bekerja.

"Lalu satpam perlihatkan satu persatu fotonya dan anak saya langsung menunjuk satu perempuan benama Afriska dan dua laki-laki bernama Agun dan Awan," imbuhnya.

Sang Bunda yang mengetahui pelaku dari sang anak ini dengan bantuan satpam sekolah, langsung menginformasikannya kepada pihak Polda Metro Jaya. Hingga akhirnya polisi menangkap Agun pada tanggal 3 April 2014. Awalnya Awan tidak mengakui perbuatannya.

"Tetapi akhirnya dia mengaku dan dia bilang 'kok teman saya Awan nggak ditangkap'. Sehingga akhirnya polisi juga menangkap Awan yang ternyata namanya itu Firziawan. Kedua pelaku adalah orang yang sama yang ditunjuk anak saya dalam foto yang diberikan satpam," katanya.

Dua pelaku ini, lanjutnya, diperlihatkan oleh polisi kepada anaknya melalui kaca khusus untuk mengidentifikasi pelaku di Polda Metro Jaya. Saat itu, anaknya tidak mau melihat ke kaca tersebut karena takut terhadap pelaku. Namun, setelah diyakinkan bahwa pelaku tidak dapat melihat korban melalui kaca tersebut, akhirnya korban mau mengidentifikasi pelaku.

"Di kaca itu ada beberapa orang yang berdiri, tidak hanya pelaku, tetapi ada polisi juga. Kalau anak saya mengada-ada, pastinya dia menunjuk polisi atau orang yang bukan pelakunya. Tetapi saat pelaku bernama Agun membalikkan badan ke kaca, anak saya langsung mengatakan 'that one'," urainya.

"Begitu yang perempuan membalikkan badannya, anak saya juga langsung bilang 'that one'. Dan ketika si Awan baru menoleh setengah muka, anak saya langsung menunjuk 'that one'," tambahnya.

Sementara korban mengungkapkan ada 5 pelaku. Namun, dua pelaku tidak dapat teridentifikasi lantaran tidak ada dalam daftar cleaning service di sekolah tersebut.

Hingga akhirnya, saat TPW berada di Thailand, ia mendapat informasi dari polisi yang telah menangkap kembali 2 orang diduga pelaku bernama Anwar dan Zaenal. Namun ternyata, dua orang ini tidak masuk dalam daftar petugas cleaning service di sekolah tersebut.

"Sampai akhirnya saya tahu bahwa ketika Agun dan Awan ini tidak bekerja, digantikan oleh Zaenal dan Anwar," katanya.

Hanya saja, Zaenal dan Anwar belum ditetapkan sebagai tersangka karena korban sendiri belum mau mengidentifikasi pelaku.

"Seharusnya anak saya mengenali mereka hari ini, tetapi karena anak saya tidak mau, jadi tidak saya paksa bawa ke Polda Metro," imbuhnya.

Sang Bunda mengatakan, anaknya kini mengalami traumatis berat. Bahkan anaknya sudah 'menyerah' dengan proses penyidikan.

"Anak saya bilang 'dua saja cukup mami. Yang penting aku nggak sekolah di situ lagi kan, yang penting aku sama mami terus'. Saking traumanya anaknya sampai-sampai dia tidak mau saya tinggal," pungkasnya.

(mei/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads