Dalam keterangan persnya di executive lounge hotel Clarion, Makassar, Minggu (13/4/2014), Akbar didampingi Caleg PPP Andi Djamaro, Caleg Gerindra Kamrusamad, Caleg Nasdem Zainal Tahir dan beberapa timses dari partai lainnya.
"Kami menganggap pelaksanaan Pemilu kali ini lebih buruk dari Pemilu sebelumnya dengan banyaknya praktek money politic dari para caleg, waktu duduk di DPR saya ikut merancang Undang-undang Pemilu, Undang-undangnya sudah bagus, tapi implementasinya di masyarakat sangat hancur," ujar mantan politikus Hanura yang mencalonkan lagi di Dapil 2 Sulawesi Selatan.
Dalam keterangan pers ini, Akbar turut menghadirkan Tesma, warga Kel. Ompo, Kec. Lalabata, Kab. Soppeng, bersama barang bukti amplop berisi uang Rp 25 ribu dari timses Syamsu Niang, caleg PDIP di Dapil 2 Sulsel. Kasus ini sudah dilaporkan ke Panwaslu Soppeng pada Jumat 11 April kemarin. Selain amplop berisi uang tunai, koalisi caleg ini juga telah mengantongi bukti-bukti politik uang sejumlah caleg di Sulsel.
Akbar mengaku temuan-temuan praktek money politic ini sudah dilaporkan pada Ketua Bawaslu, Muhammad dan Panwaslu Sulsel.
Selain Akbar, Kamrusamad, Caleg Gerindra di Dapil 2 juga ikut melaporkan rekannya sesama partai Gerindra, yakni Darmawan Aras, yang melakukan pembagian sembako di Kab. Pangkep.
"Apa yang dilakukan rekan saya dengan membagi-bagikan paket sembako sangat jauh dari nilai-nilai kejujuran yang sudah ditanamkan Pak Prabowo, kasus ini sudah saya laporkan ke DPW Gerindra Sulsel tapi hanya didiamkan," pungkas Kamrusamad.
Sementara Andi Djamaro, politisi partai berlambang Ka'bah yang sebelumnya sudah duduk di Senayan, mengaku sangat dirugikan dengan adanya praktek politik uang. "Bertahun-tahun kami sosialisasi dan memberikan pendidikan politik ke warga, namun hancur lebur dalam sehari akibat adanya sogokan ke warga," pungkas mantan Dosen Univiversitas Negeri Makassar ini.
(mna/try)











































