Aneka Peristiwa Unik dan Memilukan Terkait Caleg Gagal

Aneka Peristiwa Unik dan Memilukan Terkait Caleg Gagal

- detikNews
Jumat, 11 Apr 2014 15:02 WIB
Aneka Peristiwa Unik dan Memilukan Terkait Caleg Gagal
Ilustrasi/ Dok Detikcom
Jakarta - Meski hasil pileg belum dilansir KPU, parpol dan caleg sudah bisa memperkirakan perolehan suaranya. Sebab mereka memiliki saksi di TPS, sehingga beberapa saat usai pencoblosan, perolehan suara bisa didapatkan.

Bagi yang suaranya lumayan, tentu tidak masalah. Tapi yang suaranya jauh dari perkiraan, hari-hari setelah pileg ibarat mimpi buruk. Apalagi jika mereka sudah mati-matian berjuang 'merayu' pemilih dan mengeluarkan dana ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah.

Berdasarkan evaluasi kepolisian dan instansi terkait, pileg relatif aman. Namun di beberapa tempat terjadi 'insiden' terkait caleg gagal. Berikut ini beberapa di antaranya:


Ilustrasi/ Dok Detikcom

1. Pendukung Mengamuk

Ilustrasi/ Dok Detikcom
Kamis (10/4) kemarin, Kota Nabire, Papua, mencekam sejak pagi hingga sore. Pasca penghitungan suara TPS 10 Perumahan Satpol PP, Kelurahan Wonorejo, Distrik Nabire Barat, massa mengamuk. Mereka merusak pangkalan ojek dan kantor kepala desa.

Puluhan orang memalang satu-satunya jalan raya di kawasan tersebut setelah caleg yang didukungnya kalah suara. Tak sekadar merusak fasilitas umum, massa juga sempat mengancam petugas TPS dan ketua RT setempat agar perolehan suara caleg yang didukungnya mendapatkan suara lebih banyak.

"Beberapa orang masuk rumah sakit," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo.  ketika dihubungi melalui telepon selulernya.

Warga setempat ketakutan. Mereka tak berani keluar rumah. Situasi mereda setelah aparat keamanan bersiaga di lokasi.

1. Pendukung Mengamuk

Ilustrasi/ Dok Detikcom
Kamis (10/4) kemarin, Kota Nabire, Papua, mencekam sejak pagi hingga sore. Pasca penghitungan suara TPS 10 Perumahan Satpol PP, Kelurahan Wonorejo, Distrik Nabire Barat, massa mengamuk. Mereka merusak pangkalan ojek dan kantor kepala desa.

Puluhan orang memalang satu-satunya jalan raya di kawasan tersebut setelah caleg yang didukungnya kalah suara. Tak sekadar merusak fasilitas umum, massa juga sempat mengancam petugas TPS dan ketua RT setempat agar perolehan suara caleg yang didukungnya mendapatkan suara lebih banyak.

"Beberapa orang masuk rumah sakit," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo.  ketika dihubungi melalui telepon selulernya.

Warga setempat ketakutan. Mereka tak berani keluar rumah. Situasi mereda setelah aparat keamanan bersiaga di lokasi.

2. Nyaris Duel

Ilustrasi/ Dok Detikcom
Nyaris terjadi pertumpahan darah di Kabupaten Bangkalan, tepatnya di Dusun Shebuh, Desa Tobadung, Kecamatan Klampis. Kejadian bermula ketika caleg NasDem, Abdul Azis, mengecek TPS 3 di Dusun Shebah. Gerak-gerik Aziz dicurigai oleh H Halim yang merupakan caleg dari Gerindra.

Terjadi perselisihan di antara kedua caleg tersebut. Halim mengeluarkan celurit yang dibawanya dan menantang duel Abdul Azis. "Namun dapat dipisahkan oleh Kapolsek, Kasat Narkoba, sehingga mereka bisa menahan diri dan didamaikan," kata Kadiv Humas Ronny F Sompie, Kamis (10/4/2014).

2. Nyaris Duel

Ilustrasi/ Dok Detikcom
Nyaris terjadi pertumpahan darah di Kabupaten Bangkalan, tepatnya di Dusun Shebuh, Desa Tobadung, Kecamatan Klampis. Kejadian bermula ketika caleg NasDem, Abdul Azis, mengecek TPS 3 di Dusun Shebah. Gerak-gerik Aziz dicurigai oleh H Halim yang merupakan caleg dari Gerindra.

Terjadi perselisihan di antara kedua caleg tersebut. Halim mengeluarkan celurit yang dibawanya dan menantang duel Abdul Azis. "Namun dapat dipisahkan oleh Kapolsek, Kasat Narkoba, sehingga mereka bisa menahan diri dan didamaikan," kata Kadiv Humas Ronny F Sompie, Kamis (10/4/2014).

3. Datangi Padepokan

Foto: detikTV-Trans 7
Beberapa hari terakhir, Padepokan Al Bustomi di Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, Cirebon, Jawa Barat, didatangi caleg dan tim sukses. Sebagian besar berkonsultasi karena kalah. Seperti dilaporkan Trans7 via detikTV, Kamis (10/4) kemarin, salah satu caleg DPRD Cirebon, Sofyan, bahkan tinggal di padepokan tersebut. Ia mengaku pusing dengan tagihan utang sebesar Rp 300 juta.

3. Datangi Padepokan

Foto: detikTV-Trans 7
Beberapa hari terakhir, Padepokan Al Bustomi di Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, Cirebon, Jawa Barat, didatangi caleg dan tim sukses. Sebagian besar berkonsultasi karena kalah. Seperti dilaporkan Trans7 via detikTV, Kamis (10/4) kemarin, salah satu caleg DPRD Cirebon, Sofyan, bahkan tinggal di padepokan tersebut. Ia mengaku pusing dengan tagihan utang sebesar Rp 300 juta.

4. Tak Pulang ke Rumah

Foto: detikTV-TransTV
Kejadian serupa juga terjadi di Banda Aceh. Bedanya, para caleg tidak tinggal di padepokan, melainkan di rumah ketua partai. Sebanyak 6 calon wakil rakyat lokal tak berani pulang ke rumah. Alasannya, mereka belum bisa membayar uang saksi yang diordernya menjaga TPS.

Seorang caleg, Junaidi, mengaku mengaku kerap mendapat telepon dan menerima pesan singkat dari para saksi. Ia sebenarnya ingin melunasi honor saksi. Hanya saja, ia tidak punya uang. Apalagi, berdasarkan penghitungan internal, ia kalah.

"Sekarang kami terpaksa harus menginap di rumah ketua partai," jelasnya.

Ketua DPD Partai Hanura Banda Aceh, Abdul Jabar, menjelaskan pihaknya belum mampu membayar honor saksi karena dana dari DPP Hanura belum dikirim. Hingga saat ini, dia berusaha mencari solusi atas kejadian ini dan berharap ada kucuran dana.

4. Tak Pulang ke Rumah

Foto: detikTV-TransTV
Kejadian serupa juga terjadi di Banda Aceh. Bedanya, para caleg tidak tinggal di padepokan, melainkan di rumah ketua partai. Sebanyak 6 calon wakil rakyat lokal tak berani pulang ke rumah. Alasannya, mereka belum bisa membayar uang saksi yang diordernya menjaga TPS.

Seorang caleg, Junaidi, mengaku mengaku kerap mendapat telepon dan menerima pesan singkat dari para saksi. Ia sebenarnya ingin melunasi honor saksi. Hanya saja, ia tidak punya uang. Apalagi, berdasarkan penghitungan internal, ia kalah.

"Sekarang kami terpaksa harus menginap di rumah ketua partai," jelasnya.

Ketua DPD Partai Hanura Banda Aceh, Abdul Jabar, menjelaskan pihaknya belum mampu membayar honor saksi karena dana dari DPP Hanura belum dikirim. Hingga saat ini, dia berusaha mencari solusi atas kejadian ini dan berharap ada kucuran dana.
Halaman 2 dari 10
(try/trq)


Berita Terkait