Megawati 'Queen Maker' Penentu Peta Pilpres

Megawati 'Queen Maker' Penentu Peta Pilpres

- detikNews
Jumat, 11 Apr 2014 14:37 WIB
Megawati Queen Maker Penentu Peta Pilpres
Jakarta - PDIP muncul sebagai pemenang Pileg 2014. Meski suaranya tak dominan, namun PDIP memegang posisi kunci dalam peta Pilpres 2014. Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri jadi 'Queen Maker' dalam suksesi RI 1.

Mega telah menunjukkan sikap negarawan dengan menunjuk Joko Widodo menjadi capres PDIP. Jokowi kemudian bersama Mega berkampanye keliling Indonesia di masa kampanye Pileg. Hasilnya, PDIP keluar sebagai pemenang, meskipun di quick count hanya meraih 18-19% suara. Efek Jokowi, mesti kecil, sukses mengangkat suara PDIP.

Kecilnya Jokowi effect di Pileg kemarin dinilai kalangan pengamat karena kurang optimalnya PDIP memanfaatkan sosok Jokowi. Antara di iklan-iklan 'Indonesia Hebat' yang sama sekali tidak memunculkan sosok Jokowi. Jokowi sendiri mengakui hanya 3 hari iklan sebagai capres di televisi.

Namun setidaknya PDIP keluar sebagai pemenang. Mega juga telah menyampaikan pidato kemenangan. Posisi PDIP sebagai partai terbesar plus pesona Jokowi sebagai capres terkuat saat ini, menempatkan Mega sebagai salah satu kunci utama penentu peta Pilpres 2014.

Dan benar saja, sejumlah partai mulai membangun komunikasi dengan PDIP. Sebut saja PAN, PKB, dan NasDem yang sudah bertemu langsung dengan Mega sejak sebelum Pileg. Bahkan kemarin Kamis (10/4) terjadi pertemuan intens lagi antara NasDem dan PDIP dan mulai ada istilah koalisi 'Mega Surya'.

Faktor tingginya elektabilitas Jokowi menjadi daya tarik tersendiri bagi mitra koalisi yang ingin merapat. Sebut saja PAN yang kabarnya menawarkan Hatta Rajasa jadi cawapres, NasDem yang kabarnya menawarkan Jusuf Kalla, dan PKB yang sudah berani terang-terangan mengharap kursi cawapres.

Jika empat partai ini berkoalisi, maka total perolehan suaranya sudah lebih dari 41%. Partai pendukung Jokowi bisa melampaui 50% suara jika Mega membuka 'pintu hati' koalisi dengan PD yang meraih suara (10,2%) di quick count versi Populi Center yang dipublikasikan hari ini. Tentu hal ini membuka peluang Pilpres berlangsung satu putaran, meskipun tetap kekuatan figur yang utama di kontestasi Pilpres ini.

Sementara itu masih ada 3 parpol lain yang berharap bisa jadi pusaran koalisi pengusungan capres yakni Golkar yang meraih 15,05%, Gerindra meraih 12,1%, dan Hanura yang hanya meraih 5,17% suara. Tentu dibandingkan Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie, capres Hanura Wiranto peluang majunya lebih kecil. Bahkan jika mayoritas parpol sudah berkoalisi ke PDIP untuk mengusung Jokowi, ketiga capres itu belum aman 'boarding pass-nya'.

Partai Gerindra sejauh ini baru berkomunikasi dengan PPP yang raihannya sekitar 7,02%. Koalisi Gerindra-PPP ini belum cukup untuk mengusung pencapresan Prabowo. Mungkin masuknya Hanura dan PKS, jika mungkin, masih bisa jadi tiket pencapresan Prabowo, asalkan kedua partai ini tak mengarahkan koalisi ke Golkar yang juga sedang berjuang mencarikan tiket untuk Ical.

Posisi Golkar sendiri selama ini tak bisa jauh dari kekuasaan, bukan tidak mungkin Golkar akhirnya realistis dan mengarahkan koalisi ke partai yang punya capres terkuat saat ini, PDIP.

Situasi mungkin berubah jika partai tengah ingin mengulang sejarah tahun 1999 dengan memunculkan poros strategis. Jika 4 partai Islam yakni PPP, PKB, PAN, dan PKS berkumpul memang totalnya sudah melampaui syarat pengusungan capres. Ada kabar poros ini mulai memunculkan Hatta Rajasa sebagai capres dan Muhaimin Iskandar sebagai cawapres, namun ini baru kabar burung.

Dengan asumsi ada poros strategis itu, koalisi PDIP-NasDem pun sudah cukup untuk mengusung Jokowi sebagai capres. Apalagi kalau Mega-SBY menyatu di koalisi mendukung Jokowi. Masuknya PD jelas menambah kekuatan kubu Jokowi makin kuat. Itu belum termasuk peluang ikutnya Golkar yang tak tahan berada di luar pemerintahan, apalagi mantan Ketum Golkar Jusuf Kalla juga melirik kursi cawapres Jokowi.

Pada posisi ini 'boarding pass' Prabowo semakin berat. Prabowo bisa nyapres seandainya Golkar atau PD merapat ke Gerindra.

Konstelasi politik memang semakin panas dan rumit setelah Pileg. Kita ikuti saja perkembangannya.

(van/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads