Jadi Cawapres Jokowi? Ahok: Harus Izin Gerindra

Jadi Cawapres Jokowi? Ahok: Harus Izin Gerindra

- detikNews
Jumat, 11 Apr 2014 13:03 WIB
Jadi Cawapres Jokowi? Ahok: Harus Izin Gerindra
Jakarta - Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok disebut-sebut jadi salah satu pasangan yang cocok disandingkan dengan capres PDIP, Joko Widodo. Bahkan petinggi partai PDIP juga sudah membuka peluang untuk meminang politisi partai Gerindra itu. Lalu bagaimana respon Ahok yang kini sedang menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta itu?

Menurutnya, dia bisa saja menerima pinangan jadi calon wakil presiden Jokowi, tapi ada syaratnya. Dia bilang Jokowi harus meminta izin dari partainya. "Ya harus izin Gerindra," kata dia di Balaikota DKI Jakarta, jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (11/4).

Sebelumnya, Ahok mengaku dia sudah "diwakafkan" oleh partai untuk mengurusi pemerintahan di DKI Jakarta. Itu sebabnya dia tidak lagi dilibatkan sebagai juru kampanye mendulang suara bagi partai Gerindra. Tetapi, sebagai kader partai ia akan ikut perintah partai tempatnya bernaung.

Artinya, jika partai lantas memberikan lampu hijau untuk langkah politiknya maju ke Pilpres, Ahok akan siap mengikuti. "Saya sih tergantung perintah partai Gerindra," kata dia lagi.

Pemasangan Jokowi dan Ahok dinilai akan membuat keduanya jadi pasangan yang kuat dan membuat elektabilitas keduanya melonjak. Hal ini terkonfirmasi dari hasil Exit Poll yang dilakukan Cyrus Network dan CSIS pada 9 April lalu. Dari hasil jajak pendapat atas 8.000 responden dengan menggunakan metode exit poll, alias menanyai pemilih seusai dia memberikan suara di tempat pemungutan suara, mereka mensimulasikan peta kekuatan pasangan capres-cawapres.

"Elektabilitas Capres PDIP Joko Widodo jika dipasangkan dengan mantan Wapres dibandingkan dengan dipasangkan dengan Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ternyata tidak jauh berbeda, bahkan bisa dikatakan setara," kata Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi, dalam siaran pers, Jumat (11/4).

Jika dipasangkan dengan Jusuf Kalla, pasangan Jokowi-JK dipilih sebanyak 41,1% responden, hanya berbeda 1,29% dibandingkan pasangan Jokowi-Ahok meraup 39,81%. Jika dihitung berdasarkan Margin of Error +/-1%, selisih 1,29% tidaklah signifikan, dua hasil elektabilitas ini bisa diartikan sebagai elektabilitas yang setara.

Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait menyatakan ada beberapa nama yang sudah masuk radar bursa cawapres seperti Mahfud MD dan Abraham Samad, Hatta Rajasa, Ryamizard Ryacudu, Moeldoko, Luhut Panjaitan dan Pramono Edhie. Dia bilang pihaknya akan menginventarisir dengan mempertimbangkan kekurangan dan kelebihannya, kecocokan dengan tantangan dan realitas politik serta masalah publik yang ada.

"Ada banyak nama yang berkembang di publik. Ada yang pengalaman tinggi seperti pak JK, ada yg terbukti bisa kerjasama dan menempatkan diri dengan tepat sebagai wakil yakni pak Ahok. Semua sah-sah saja," kata Maruarar ketika ditemui di kantor DPP PDIP, kemarin malam.

Ditanya siapa yang paling ideal mendampingi Jokowi memimpin Indonesia, Maruarar menyerahkannya pada Ketua Umum Megawati Soekarno Putri untuk memutuskannya. "Saya yakin mba Mega sekali lagi dengan bijaksana pasti memutuskan yang terbaik," kata dia.


(ros/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads