"Sunda Megathrust itu dari Aceh hingga Andaman. Sudah ada beberapa titik yang rilis energinya, yang dikhawatirkan sekarang kawasan di depan Selat Sunda yaitu sekitar pantai barat Sumatera dan selatan Jawa," kata peneliti geoteknologi LIPI Haryadi Permana dalam diskusi di Gedung BPPT, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (7/4/2014).
Menurut Haryadi, kawasan itu dinilai rawan karena posisinya yang seperti leher botol. "Dia masuk ke selat kecil, celahnya kecil itu jadi air naiknya tinggi," imbuhnya.
Potensi bencana Sunda Megathrust yang terbesar adalah tsunami. Tsunami bisa terjadi karena adanya pergeseran vertikal di bawah laut. Namun hingga saat ini, gempa di sekitar Selat Sunda yang memungkinkan adanya tsunami jarang terjadi.
"Kalau kedalaman gempa kurang dari 65 km dengan 6,5 SR biasanya ada peringatan tsunami. Tapi sampai saat ini jarang terjadi," tutur Haryadi.
Ia mengimbau agar masyarakat tak perlu khawatir berlebihan potensi bencana Sunda Megathrust. Masyarakat harus paham dan mempersiapkan diri tapi tidak panik.
"Tidak perlu khawatir, hidup seperti biasa saja. Yang penting masyarakat ikuti informasi. Pemerintah menyiapkan lokasi evakuasi bila nanti ada kejadian dan juga mempersiapkan pembangunan harus yang berbasis bencana, " ujarnya.
(gah/ndr)











































