Lebih dari itu, quick count memiliki manfaat agar pihak-pihak yang berkepentingan terhadap proses dan hasil Pemilu memiliki data pembanding yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kemungkinan kecurangan yang terjadi pada proses tabulasi suara.
Hasil dari quick count dapat dijamin akurasinya sebab penghitungan cepatnya dengan menggunakan metode sampling yang tepat, manajemen yang efektif, dan kontrol berlapis. "Quick count mampu menyuguhkan data dengan akurasi yang tinggi," kata Creative Director Cyrus Network Eko Prasetyo Galan saat dihubungi detikcom, Senin (07/04/2014).
Eko menegaskan, semua proses Pemilu harus dikontrol dan dipastikan terhindar dari tindakan kecurangan. "Quick count salah satu cara untuk mengawasinya," ujarnya.
Eko mengungkapkan kalau di Amerika tidak ada quick count karena pengitungan suaranya di bukan TPS. Lagi pula kalau di Amerika hasil penghitungannya lumayan cepat karena rantai administrasinya pendek. "Tak sepanjang di Indonesia," ucap dia.
Biasanya, Eko meneruskan, mekanisme kontrol mereka dengan Survei Exitpoll. "Mewawancarai orang-orang yang baru keluar dari bilik suara," kata Eko.
Lebih jauh Eko menjelaskan, di Indonesia penghitungan suaranya dilakukan di TPS-TPS. Kemudian rantai administrasinya lumayan panjang. Dari TPS ke PPK kecamatan, lalu ke
kabupaten, lalu ke provinsi, baru ke pusat.
Rantai administrasi yang panjang tersebut tentunya mempunyai kerawanan. Semakin panjang birokrasi maka semakin besar potensi kecurangannya. "Makanya kita butuh cara untuk memastikan Pemilu berjalan dengan jujur dan adil, quick count menjawab itu," Eko menekankan.
(brn/van)











































