Menurut Radhar, kalau Megawati tetap mempertahankan idealismenya maka bakal sulit menjalankan sesuai pola pikirnya meski menguasai pemerintahan. Cara terbaik bagi putri Bung Karno ini adalah membuka hubungan baru untuk eksistensi menjalankan pemerintahan yang diperkirakan bakal dimenangkan PDI-P.
Walaupun tidak pernah 'akrab' dengan kalangan TNI, dia melihat ada peluang Mega membuka pintu untuk purnawirawan Jenderal. Kalangan purnawirawan TNI dianggap bisa merengguk suara untuk memperkokoh kekuatan PDIP.
Salah satunya isu yang menyebut Panglima TNI Jenderal Moeldoko berpeluang mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden.
"Mega punya historis dengan kalangan militer dari orde baru. Ada rasa dendam. Di PDIP cuma ada purnawirawan Mayjen Theo Syafei yang sudah meninggal. Tapi, saya lihat, Mega bisa lah membuka pintu buat TNI di Pilpres nanti. Ada peluang gandeng militer yaitu dia (Moeldoko -red) bisa," ujar Radhar.
Hal itu dikatakannya di sela-sela diskusi 'Kontestasi Empat Partai: Membaca Media dan Hasil Survei Menjelang Pileg 2014' di lantai 12, Wisma Kodel, Jakarta, Jumat (4/4).
Dia menilai perubahan pragmatisme Mega sudah terlihat ketika memberikan mandat terhadap Jokowi sebagai capres PDIP. Kesadaran Mega yang memberikan Jokowi mandat harus dilihat secara obyektif. Meski diakui saat itu Mega juga mendapat tekanan internal terkait waktu pengumuman capres dan siapa calonnya, dia bisa menunjukan sikap pragmatisnya.
Persoalan idealis mengumumkan capres PDIP yang seharusnya pasca Pileg diubahnya menjadi lebih cepat. Hal ini pun dianggap sebagai langkah tepat dan memberikan keuntungan bagi partai moncong putih itu.
"Itu kan dilihat ada pragmatisme Mega. Kalau terus idealisme susah, enggak bisa. Digembor-gemborkan pasca Pileg, nyatanya lebih cepat dan baik juga buat langkah PDIP," kata pria yang juga dosen Sosiologi Universitas Indonesia itu.
(hat/trq)











































