"Sebelum menikah, dia tinggal sama saya. Dulu masih prihatin, dia masih jadi anggota Kamra (keamanan masyarakat)," kata Titin saat ditemui di RS Persahabatan, Jl Persahabatan, Jakarta Timur, Jumat (4/4/2014).
Titin mengatakan, dirinya selalu menasehati Edy agar disiplin dan jujur dalam bekerja. Menurutnya, sang adik juga tak pernah membantah nasehat-nasehatnya itu.
"Saya bilang, kita di sini merantau, kita miskin tapi kita dihargai teman kalau kita menghargai teman," kenang Titin sambil terisak.
Karena kegigihan dan keprihatinan tersebut, karir Edy terus menonjol. Anak terakhir dari 5 bersaudara ini kemudian diangkat sebagai anggota perlindungan masyarakat (linmas) hingga akhirnya menjadi anggota pengawas dan pengendalian Sudinhub Jaktim.
"Saya kasih modal, dia prihatin. Kita merintis dari bawah sekitar 20 tahun yang lalu," kata kakak ketiga Edy ini.
Setelah menikah, Edy menyewa kontrakan di kawasan Pondok Gede bersama istri dan anak-anaknya. Namun ketika dipindahtugaskan ke Jakarta Timur, istri Edy, Karyani memilih tinggal di kampung halamannya di Yogyakarta bersama keempat putri mereka.
"Dia sebelumnya sudah menikah tapi istrinya meninggal," kata Titin.
Kini adik kesayangannya tersebut telah tiada. Ia hanya dapat mengenang kebersamaan dalam masa perjuangan puluhan tahun yang lalu tersebut.
"Kami sudah ikhlas. Semoga adik saya diterima di sisiNya," tutup Titin.
(kff/rvk)











































