Hanafi Rais: Jadi Anggota DPR Harus Banyak Baca

Caleg Potensial

Hanafi Rais: Jadi Anggota DPR Harus Banyak Baca

- detikNews
Jumat, 04 Apr 2014 17:20 WIB
Hanafi Rais: Jadi Anggota DPR Harus Banyak Baca
Hanafi Rais
Jakarta - Pemilihan umum anggota legislatif tinggal hitungan hari. Pada Rabu 9 April nanti, masyarakat akan memilih wakil-wakilnya yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat. Namun hingga kini tak banyak masyarakat yang mengenal profil dan rekam jejak si calon legislator.

Kami dari redaksi detikcom mencoba menulis profil dan rekam jejak seorang caleg yang akan berebut kursi ke Senayan. Kali ini kami menulis sosok Ahmad Hanafi Rais (34 tahun) yang maju sebagai calon anggota legislatif dari Partai Amanat Nasional dari daerah pemilihan Yogyakarta nomor urut 1.

Pada 2011 lalu putra mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Amien Rais ini pernah mencoba maju sebagai calon Wali Kota Yogyakarta. Namun meski menyandang nama besar sang ayah, Hanafi gagal mengalahkan calon incumbent. Kini Hanafi mencoba maju sebagai calon anggota legislatif. Apa saja janjinya jika terpilih?

Berikut wawancara detikcom dengan Hanafi Rais.
Β 

Β 
Apa motivasi Anda maju sebagai calon anggota legislatif?
Tiga kali pemilu legislatif ini (1999, 2004, 2009), belum pernah ada calon legislatif muda dari Yogyakarta yang berhasil menembus Senayan. Padahal DIY ini adalah kota pelajar-mahasiswa, gudangnya generasi kreatif dan banyak komunitas sosial anak-anak muda yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat. Mayoritas generasi muda di DIY, mulai dari seniman, budayawan, pelajar, mahasiswa, aktivis sosial hingga wirausaha, sudah sering mewarnai dinamika ekonomi, bisnis, kebudayaan, dan lingkungan di Yogjakarta.

Namun representasi generasi muda untuk bisa muncul dalam ranah politik, khususnya di DPR pusat dari dapil DIY ini rasanya masih belum terasa kuat. Pada konteks inilah, saya berikhtiar semoga majunya kami bisa menjadi suara yang merepresentasikan generasi muda yang selama ini sudah membangun Jogja secara kreatif, dinamis, dan berkesinambungan.

Jika nanti lolos lagi ke Senayan, apa prioritas Anda pada 100 hari pertama?
Pertanyaan "the first 100 days" itu lumrahnya lebih tepat ditanyakan kepada eksekutif karena kebijakan mereka-lah yang akan kita nilai dan kita awasi apakah akan paralel dengan kampanyenya atau tidak. Tapi kalau sebagai anggota legislatif, "100 hari pertama" ini saya akan pergunakan untuk memastikan penempatan komisi yang sesuai dengan keahlian kami (ekonomi politik), meneruskan agenda legislasi yang belum tuntas di periode DPR sebelumnya, dan mendorong agenda baru dalam proses legislasi.

Apakah Anda termasuk barisan anti korupsi? Boleh saya tahu alasannya?
Biar orang lain yang menjawab ini saja karena penilaian orang lain pasti akan lebih obyektif. Silakan google nama kami selama ini dan apakah ada kaitannya dengan korupsi atau tidak. Yang pasti, saya punya prinsip, jabatan dewan itu ibarat "talang garing". Artinya, jabatan dewan itu seperti talang air yang mengalirkan anggaran negara dan HARUS 100% kebermanfaatannya untuk rakyat yang diwakilinya, bukan masuk di kantong sendiri. Sehingga talang itu cuma untuk lewat saja, tetap kering ("garing"-Jawa). Tapi jika masuk kantong sendiri, itu artinya talangnya ikut basah dan itu yang disebut dengan korupsi. Itu saja.

Bila ada yang menawari Anda uang-uang tidak jelas yang berindikasi suap atau korupsi, apa sikap Anda? Menolak atau menerima?
Tolak!

Apakah Anda termasuk barisan anti bolos?
Kalau sudah terpilih, maka silakan dinilai apakah saya bolosan atau tidak. Bolos itu biasanya karena ada sesuatu yang dihindari. Bukan karena malas atau capek. Supaya tidak bolosan, sesama anggota dewan yang terpenting adalah menjaga bersama-sama agar atmosfir sidang, rapat kerja, dengar pendapat di DPR itu berlangsung sehat, proaktif, dan substantif.

Beberapa anggota DPR terlibat dalam pelanggaran asusila. Tanggapan Anda?
Semoga tidak terpilih lagi.

Selama ini DPR dikesankan menghambur-hamburkan uang rakyat, salah satunya karena sering ada agenda kunjungan ke luar negeri untuk studi banding, yang mengada-ada. Bagaimana sikap Anda terhadap hal ini?
Kunjungan kerja ke luar negeri boleh asal ada urgensi dan relevansinya dengan kepentingan nasional. Jika tidak relevan dan terlalu sepele, sebaiknya tidak usah ada kunker. Daripada buang duit buat kunker yang tidak jelas, mending DPR nanti melengkapi koleksi perpustakaannya dari jurnal, majalah, koran (semuanya nasional dan internasional) dengan infrastruktur internet dan layanan perpustakaan yang nyaman dan canggih. Anggota dewan harus lebih banyak baca daripada jalan-jalan.


(trq/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads