Demikian disampaikan Humas BNPB Sutopo dalam jumpa pers di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Jumat (4/4/2014). Sutopo menjelaskan, BNPB berada di Riau sebelum Presiden SBY menetapkan status Tanggap Darurat.
"Total anggaran yang kita gunakan sampai hari ini mencapai Rp 164 miliar. Sekalipun hari ini berakhir Status Tanggap Darurat Nasional, namun BNPB tetap melakukan pendampingan ke Pemprov Riau selaku pemegang estafet setelah ditangani pemerintah pusat," kata Sutopo.
Sutopo menjelaskan, dana sebanyak Rp 164 miliar dalam operasional di Riau banyak tersedot dalam penyewaan pesawat. Karena sejumlah heli yang digunakan seluruhnya status sewa.
"Heli yang kita gunakan seluruhnya menyewa misalnya dari Rusia. Dananya juga termasuk untuk bahan pesawat Cassa untuk pembuatan hujan buatan," kata Sutopo.
Masih menurut, BNPB masih tetap melakukan pendampingan ke Pemprov Riau. Penanganan selanjutnya menjadi tanggungjawab Gubernur Riau.
"Satgas memang sudah ditarik, namun kita masih memberikan pendampingan. Namun penanganannya kita serahkan ke Gubernur Riau," kata Sutopo.
Terkait penggunaan dana APBN, kata Sutopo, pihak BNPB tetap dilakukan pendampingan audit dari BPK. Sehingga pihaknya siap untuk dilakukan audit.
"Kami kurang setuju kalau ada yang menilai penanganan kabut asap yang saban ini dinilai proyek. Kita hadir untuk penanganan. Sekedar untuk diketahui, dana penanganan pada tahun 2013 lalu menghabiskan anggran Rp 103 miliar," kata Sutopo.
(cha/try)











































