Buntut Peledakan dan Petrus di Palu, Kapolresta Dicopot

Buntut Peledakan dan Petrus di Palu, Kapolresta Dicopot

- detikNews
Senin, 13 Des 2004 07:52 WIB
Jakarta - Buntut penembakan misterius dan peledakan di kota Palu, Sulawesi Tengah, Kapolresta Palu AKBP Noman Siswandi dicopot. Noman dianggap telah teledor dan lalai menjalankan tugasnya sebagai kapolresta. Gantinya, ditunjuk AKBP Guntur Widodo yang pernah menjabat sebagai Kapolres Luwuk. Pergantian ini dilakukan terhitung sejak hari Senin (13/12/2004). Demikian keterangan Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Aryanto Sutadi kepada detikcom, Senin (13/12/2004). Aryanto mengaku pihak kepolisian kecolongan akibat kejadian penembakan yang menimpa 2 gereja di Palu. "Saya sangat menyesali kejadian semalam. Seharusnya bila anggota benar-benar berjaga-jaga di setiap pusat keramaian, terutama tempat ibadah, hal ini tidak akan terjadi," katanya saat dihubungi melalui telepon selulernya. Menurut Aryanto, pihaknya sudah memperingatkan semua anggotanya agar berhati-hati, terlebih menjelang hari raya Natal, 25 Desember mendatang. Setiap tempat keramaian minimal harus diamankan oleh 2 petugas berpakaian preman dan 2 petugas berseragam. "Umumnya menjelang Natal selalu ada pihak-pihak yang mau mengganggu keamanan. Saya sudah mengingatkan hati-hati menjelang Natal. Setiap kegiatan keagamaan, juga kegiatan yang melibatkan masyarakat ramai harus diamankan. Padahal Palu sudah 5 bulan terakhir tidak ada kejadian macam-macam. Kejadian kemarin adalah buah dari keteledoran," katanya menyesal. Untuk itu, Aryanto mengatakan pihaknya juga akan meninjau kinerja kapolsek setempat. Dicopot atau tidak, tergantung pertanggungjawaban mereka. Identifikasi Selongsong PeluruAryanto menyatakan bahwa 9 selongsong peluru yang ditemukan di 2 TKP, tengah diidentifikasi. Labfor Polri juga tengah menguji proyektil yang ditemukan di dalam kaki korban, Satpam Binti Jaya. "Dari jenis senjatanya kita tahu itu senjata laras panjang M-16 dengan kaliber 5,56 mm. Kita masih menyelidiki selongsong dan proyektilnya. Mudah-mudahan masih ada sidik jari pelakunya," papar Aryanto. Sementara dari pengakuan para saksi mata, ada kesamaan modus peledakan dan penembakan. Para pelaku mengenakan cadar atau slayer di kepalanya. Juga mengenakan motor dan senjata laras panjang. Juga menggunakan metode hit and run.Apakah pelaku teror di 2 gereja dilakukan oleh 2 kelompok yang sama? Aryanto tidak mau berprediksi. Namun menurutnya, kedua kelompok tidak bermaksud membunuh korban. Hanya ingin mengacaukan situasi. "Seharusnya kalau ada petugas di lapangan, hal ini bisa dihindari. Buktinya di Gereja Emanuel, pelaku langsung kabur setelah dihadang oleh satpam," sesal Aryanto lagi. (dni/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads