Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia/KPMI Foundation Dr. Baktiar Hassan di Brussel kepada detikcom, Selasa (1/4/2014).
"Selama ini komunitas muslim Indonesia menumpang di aula KBRI Brussel untuk ibadah salat berjamaah pada momen-momen tertentu semisal salat jumat, salat tarawih, salat Id dan pengajian bulanan," ujar Baktiar.
Menurut Baktiar, aula KBRI Brussel semakin tidak memungkinkan dipakai untuk kegiatan ibadah, terutama jika berbenturan waktu dengan kegiatan KBRI. Apalagi sejalan dengan pertumbuhan jamaah yang terus membesar.
Di samping itu kesibukan di aula KBRI Brussel makin padat, karena juga dipakai untuk kegiatan kebaktian saudara-saudara umat Kristen dan Katholik, Parisada Hindu Dharma, kegiatan gamelan dan kegiatan lainnya.
"Menumpang ibadah pada fasilitas muslim dari negara lain ternyata juga bukan opsi. Perbedaan bahasa dan kapasitas ruangan menjadi kendala," imbuh Baktiar.
Oleh sebab itu, lanjut Baktiar, sudah sejak tahun 2012 komunitas muslim Indonesia di Belgia berjuang untuk membangun masjid sendiri merangkap fungsi sebagai Indonesian Islamic Cultural Center/IICC (Pusat Kebudayaan Islam Indonesia).
Baktiar mengungkapkan bahwa upaya ini mendapat dukungan dari salah satu produsen hijab terbesar di Indonesia, Elzatta, sekaligus ditunjuk sebagai penanggung jawab penggalangan dana di tanah air untuk pembangunan masjid dan IICC tersebut. Pihaknya berharap masyarakat tergugah untuk ikut merealisasikan masjid Indonesia di Brussel ini.
Selain sebagai solusi permasalahan di atas, pembangunan masjid dan IICC ini juga dimaksudkan untuk mengembangkan syiar Islam lebih luas.
"Indonesia adalah representasi Islam moderat. Masjid dan IICC bisa menjadi media syiar Islam dan pencitraan positif Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, misalnya melalui kunjungan masjid yang rutin dilakukan sekolah-sekolah setempat," papar Baktiar.
Dikatakan, masjid tersebut juga bisa menjadi media bagi proses dialog dan sosialisasi antara muslim Indonesia dengan para pemangku kepentingan di Belgia.
"Semua ini bernilai sangat strategis, mengingat Brussel, ibukota Belgia, juga menjadi pusat pemerintahan Uni Eropa," pungkas Baktiar.
(es/es)











































