"Boleh bersaing tapi pada saat parlemen berkoalisi, supaya dapat pemerintahan yang kuat, supaya jangan bentar-bentar ini tidak boleh, itu tidak bisa," ujar Ical di Makassar, Selasa (1/4/2014).
Ical menjelaskan, koalisi tidak dilihat pada siapa capres dan cawapres besok, namun pada stabilitas di pemerintahan dan parlemen.
"Sehingga siapa pun nanti yang jadi presiden dapat menjalankan pemerintahan dengan tenang, jadi koalisi diperlukan pada saat akan pemerintahan," terangnya.
"Siapa yang menang bisa saja kemudian berkoalisi dengan yang kalah," tambahnya.
Dirinya menilai bahwa presiden yang terpilih pun perlu melakukan koalisi karena tidak mungkin ada partai yang memenangkan 50 persen suara.
Selain itu, Golkar tidak ingin membedakan pilihan koalisi dengan partai Islam dan nasionalis.
"Semua sekarang nasionalis religius," ucapnya.
(fiq/rmd)











































