Slamet Tak Mampu Saingi Akbar?
Minggu, 12 Des 2004 07:48 WIB
Jakarta - Persaingan menjadi ketua umum Partai Golkar kian memanas. Ketua DPP Slamet Effendy Yusuf tiba-tiba menyatakan akan maju menjadi calon ketum. Mampukah Slamet menyaingi kekuatan Akbar Tandjung?Manuver politik Slamet memang patut dicermati. Pasalnya, pada pertengahan November lalu sempat menyatakan masih belum berpikir untuk meramaikan bursa calon ketum. "Cari dulu siapa yang mencalonkan saya. Baru saya akan bicara bersedia atau tidak," ujar dia saat itu ketika ditanya seputar pencalonan.Dan saat menyatakan kesediaan dicalonkan beberapa waktu lalu, Slamet mengaku sudah mendapat dukungan dari sejumlah DPD I. Dirinya pun beralasan pencalonan ini dikarenakan untuk mewakili Indonesia Tengah. "Indonesia Tengah belum ada. Jadi saya mencalonkan diri agar aspirasi warga Golkar Indoneisa Tengah ada yang mewakili," kata Slamet kala itu.Pengamat politik dari LIPI Ikrar Nusa Bhakti menilai kans Slamet dalam persaingan posisi ketum memang ada. Namun, tidak bisa menyaingi peluang dari Akbar Tandjung."Slamet memang memiliki kepiawaian dalam berpolitik. Tapi, faksi NU belum mengakar kuat di Golkar bila dibandingkan HMI."Demikian tukas Ikrar dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (12/12/2004)."Alasan mewakili Indonesia Tengah juga patut dipertanyakan. Soalnya, Jawa kan masuknya Indonesia bagian barat," ujarnya.Meski memang, lanjut dia, peluang Slamet jauh lebih besar dibandingkan Wiranto, Marwah Daud Ibrahim dan Surya Paloh. "Wiranto tidak punya track record dalam membina kaderisasi dalam Golkar. Surya Paloh juga patut dipertanyakan kadar kegolkarannya," tukas Ikrar.Dari gaya politik, Ikrar menilai Slamet tidak 'setenang' Akbar. "Slamet terkadang suka sinis dalam menanggapi kritik atau pertanyaan. Bahkan itu ditunjukkan dalam bentuk body language," tandasnya.Hal tersebut, menurutnya, berbeda dengan Akbar. "Akbar lebih kalem, gayanya tenang dalam menanggapi serangan," tutur Ikrar.Bila terjadi deadlock dalam pemilihan ketum antara kubu Akbar dan non Akbar, Ikrar menduga Agung Laksono lebih berpeluang dibandingkan Slamet. "Kosgoro itu baik dalam proses kaderisasi. Dan aktivitas Agung serta intensitasnya dalam kegiatan partai juga baik.""Apalagi pembawaan Agung juga lebih tenang. Jadi, Agung lebih memungkinkan untuk jadi kuda hitam," kata Ikrar.Ikrar mengingatkan, pertarungan ketum ini akan membawa dampak bagi citra Golkar dalam 5 tahun mendatang. "Bila yang punya hak pilih masih mendasari pilihannnya pada calon kebetulan memiliki restu dari presiden maka masa depan demokrasi di Golkar akan makin terancam.""Berarti jangan lagi bicara Golkar baru karena kultur politiknya masih melihat presiden dan wapres menjadi dewan pembina," papar Ikrar.Tentu Munas VII Partai Golkar mendatang tetap bisa menimbulkan kejutan-kejutan politik. Jadi, kita lihat saja pada 15-20 Desember nanti.
(ton/)











































