Ayah Dwipayanti-Dwipayani Minta Putrinya Didoakan Selamat
Sabtu, 11 Des 2004 13:37 WIB
Surabaya - Rasa gelisah terpancar jelas di wajah ayah Dwipayanti-Dwipayani, meski sesekali dia tepis dengan bercanda ria. Sedangkan ibunya memilih menyendiri karena tidak tega menyaksikan buah hatinya dibedah.Terpekur diam sambil menatap layar monitor dengan tatapan menerawang. Begitulah I Gusti Ngurah Ekalaya Kunta (40), ayah sang bayi kembar dempet perut itu saat melihat proses pembedahan putrinya untuk pemasangan 4 tissue expander.Anggota Poltabes Denpasar itu sesekali tampak memanjatkan doa dengan penuh harap. Sesekali pula dia mencoba menepis resah di hatinya dengan mengajak wartawan bercanda."Aduh saya deg-degan sekali dari semalam hingga sekarang, sampai-sampai nggak bisa tidur semalaman. Apalagi melihat anak saya dibedah begitu. Tadi istri saya tidak mau lihat proses operasinya karena tidak tega," ujarnya polos dengan raut wajah yang lelah dan penat.Meski demikian, Kunta mengaku yakin dan percaya para tim dokter rumah sakit akan berhasil melakukan operasi terhadap putri kembarnya itu. Sebab sepengetahuannya, RSUD dr Soetomo sudah pernah sukses memisahkan bayi kembar siam sebanyak 9 kali."Tapi saya tetap berdoa dan minta didoakan agar kedua putri saya ini selamat," katanya kepada wartawan di luar ruang operasi di lantai 3 Gedung Bedah Pusat Terpadu RSUD Dr Soetomo jalan Karang Menjangan Surabaya Jawa Timur, Sabtu (11/12/2004).Meski tegang, namun tawa geli dan keceriaan sempat menghiasi wajah Kunta. Dia mengaku kesulitan menentukan mana yang kakak dan mana yang adik antara Dwipayanti dan Dwipayani."Saya bingung juga loh, kan lahirnya bareng. Jadi terpaksa deh, yang punya jari enam itu yang saya anggap anak pertama, yang namanya Dwipayani," ucapnya.Baik Kunta maupun istrinya I Gusti Ayu Sriyani (37) belum diperbolehkan menengok anaknya, baik saat di ruang operasi maupun setelah dipindahkan ke ruang pemulihan.Empat tissue expander sudah terpasang di tubuh Dwipayanti-Dwipayani dalam operasi yang dilakukan 19 dokter ahli bedah plastik yang berlangsung pukul 09.30-12.40 WIB. Bedah tersebut merupakan operasi tahap I. Sedangkan operasi tahap II, yakni pemisahan tubuh diperkirakan akan berlangsung satu bulan kemudian.Dwipayanti-Dwipayani lahir melalui operasi caesar pada 2 Mei 2004 di Rumah Sakit Trijata Polda Bali jalan Seruni Denpasar. Keduanya didiagnosa mengalami penempelan hati. Sang bayi kemudian dibawa ke RSUP Sanglah Denpasar, lalu diputuskan untuk menjalani operasi pemisahan di RSUD Dr Soetomo Surabaya.Dwipayanti-Dwipayani yang lahir dengan berat 4,9 kg itu merupakan buah hati pasangan Kunta dan Sriyani. Keduanya adalah warga Banjarsanghyang, Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali.
(sss/)











































