Pasca Muktamar NU
Takut Dicatut, NCC Dibubarkan
Jumat, 10 Des 2004 18:28 WIB
Solo - Konflik di tubuh NU pasca muktamar masih terus berlanjut. Mengantisipasi kemungkinan terjadinya pencatutan nama maupun fitnah, Nahdliyin Crisis Center (NCC) resmi dibubarkan. Sementara itu seorang tokoh NCC, Imam Aziz, membantah pemberitaan bahwa dirinya masuk dalam tim pembentukan organisasi baru yang digagas Gus Dur."Tujuan pendirian NCC sudah tercapai, yaitu mengkritisi jalannya muktamar, memberi ruang kepada warga NU yang ingin menyemarakkan muktamar tapi tidak bisa masuk arena muktamar karena bukan peserta, serta memperjuangkan berbagai masukan dari warga untuk dibahas dalam muktamar," ujar koordinator NCC Jazuli A Kasmani di Solo, Sabtu (10/12/2004).Lebih dari itu, lanjut dia, terjadinya pertentangan serius antara kubu Gus Dur dengan kubu Hasyim Muzadi juga menjadi salah satu pertimbangan mempercepat pembubaran NCC. Mereka khawatir, organisasi yang cukup menonjol perannya selama muktamar tersebut akan diklaim oleh pihak-pihak tertentu atau bahkan dianggap sebagai salah satu pendukung faksi yang sedang bersitegang."Kami tidak ada urusan dengan pertikaian para elit di atas, urusan kami adalah kebutuhan riil dihadapi warga NU di bawah. Kami telah berusaha melakukannya. Bahkan, meskipun NCC telah bubar kami akan terus melakukannya dengan tetap melakukan kontak jaringan yang selama ini telah terjalin melalui NCC," ujar Jazuli."Karena itu jika setelah pembubaran secara resmi ini dilakukan masih ada yang mengatasnamakan NCC untuk kepentingan yang berkaitan dengan apapun maka semua itu sudah di luar tanggung jawab NCC," lanjut menantu kiai nyentrik dari Klaten, KH Muslim Rifa'i Imampuro atau Mbah Liem tersebut.Pada kesempatan itu salah seorang aktivis NCC, Imam Aziz, mengklarifikasi berita yang menyebut namanya sebagai anggota tim bentukan Gus Dur untuk mempersiapkan kebutuhan teknis pembentukan organisasi NU baru. Berita itu dilansir sebuah harian di Jawa Timur mengutip pernyataan KH Amanullah Muchtar. Disebutkan bahwa anggota tim kecil itu adalah Amanullah Muchtar, Yenni, Ikhsan Abdullah, Imam Aziz, dan Munif."Saya tidak pernah dihubungi siapa pun untuk apa yang disebut sebagai tim kecil untuk pembentukan organisasi NU baru. Karena itu saya tidak akan bergabung dalam tim yang dimaksud. Mohon hak jawab saya dihormati untuk klarifikasi berita di sebuah harian yang dimuat hari ini," ujar direktur lembaga penerbitan LKiS di Yogyakarta tersebut.Mufaraqah, Nusyuz dan FardiyanLebih lanjut para aktivis NCC memprediksi bahwa jika perseteruan elit NU tidak segera diakhiri dan bahkan semakin tidak terkendali, tidak tertutup kemungkinan apatisme warganya semakin bertambah. Sejauh ini mereka mengaku telah mendapatkan informasi banyak warga yang telah menyatakan fardiyan (individual), Nusyuz ('pisah ranjang') hingga mufaraqah (memisahkan diri) dari NU."Para warga ini sampai pada puncak kejengkelan, sehingga tidak lagi mempercayai para pemimpinanya di struktur kepengurusan. Mereka akhirnya memilih dipimpin para kiai lokal setempat, atau menjadi menjadi NU fardiyan yaitu menyatakan tidak lagi mengakui struktur kepengurusan NU, atau bahkan karena malu lalu tidak lagi mengakui dirinya sebagai NU tapi amaliyahnya tetap NU," ujar Jazuli.
(asy/)











































