DGW diciduk Satpol PP dan Sudin Sosial Jaksel pada (19/3/2014) lalu. Saat diciduk dia sedang beraksi menjadi joki 3 ini 1 di Jl Pattimura, Jakarta Selatan, tepatnya di depan kantor Kementerian PU.
Kepada Miftahul Huda, Kasie Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Yanrehsos) Sudin Sosial Jakarta Selatan, DGW mengatakan, kepergiannya ke Jakarta karena ingin mengubah nasib.
"Saya ngajar sudah bertahun-tahun di kampung halaman saya. Tapi nggak ada perubahan nasib. Saya sudah tes CPNS berkali-kali tapi selalu gagal. Terakhir kemarin tes saya gagal tapi istri saya lolos. Saya tambah malu sama istri," keluh DGW seperti ditirukan Miftahul, Kamis (26/3/2014).
Selama berada di kampung halamannya di Watumalang, Bondowoso, DGW dan istrinya menjadi guru SD honorer. Dia digaji Rp 150 ribu-200 ribu dengan waktu kerja 6 hari seminggu. Sementara kebutuhan keluarganya banyak sehingga tidak mencukupi.
DGW sudah sebulan berada di Jakarta dan menjadi joki 3 in 1. Dia mempunyai seorang anak yang berumur 5 tahun.
Karena frustasi tidak lolos CPNS, DGW nekat ke Jakarta hanya dengan bekal uang Rp 500 ribu. Dia juga tidak pamit pada anak dan istrinya.
"Mungkin saya kualat ya, Pak. Nggak kasih tahu keluarga. Tapi niat saya kan mulia, Pak. Setelah sukses di Jakarta baru saya kasih kejutan sama keluarga. Eh, malah ketangkap Satpol PP," kata DGW.
DGW merupakan sarjana pendidikan Universitas Terbuka. "Saya kuliah dengan susah payah sampai selesai. Eh, setelah selesai juga nyari kerjaan yang mempunyai gaji lumayan susah juga," imbuh DGW.
Penangkapan DGW membuat repot keluarganya. "Paman saya (Sujadi) yang ngurusin saya sudah dua kali pulang pergi Jakarta-Bondowoso. Paman saya petani di kampung yang belum pernah ke Jakarta. Jadi dia bingung juga," kata DGW seperti disampaikan Miftahul. Atas insiden ini, DGW kapok merantau ke Ibu Kota.
(nik/nrl)











































