Bush Dituding Manipulasi Laporan Intelijen SoalMengenai Korut
Jumat, 10 Des 2004 11:21 WIB
Jakarta -
Pemerintahan George W Bush dituding telah memanipulasi laporan intelijen mengenai program nuklir Korea Utara. Manipulasi itu dilakukan dengan cara yang sama seperti isu senjata pemusnah massal di Irak, yang digunakan untuk menjustifikasi serangan ke negeri itu.Demikian dicetuskan seorang pakar kebijakan luar negeri AS dalam sebuah artikel di majalah Foreign Affairs, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (10/12/2004)."Bergantung pada data yang kabur, pemerintahan Bush menyajikan skenario kasus terburuk sebagai kebenaran yang tidak dapat dibantah dan mendistorsi intelijennya mengenai Korut (seperti yang dilakukan di Irak), dengan serius melebih-lebihkan bahaya bahwa Pyonyang diam-diam membuat senjata nuklir berbasis uranium," tulis Selig Harrison dalam Foreign Affairs.Harrison, dari Pusat Kebijakan Internasional yang berbasis di Washington, mengepalai Gugus Tugas mengenai Kebijakan Korea. Sebuah kelompok yang terdiri dari mantan pejabat-pejabat senior militer AS, diplomat dan pakar-pakar Korea.Menurut Harrison, klaimnya ini didasarkan pada sumber-sumber intelijen Jepang dan Korea Selatan (Korsel) yang berpartisipasi dengan Badan Intelijen Pusat AS atau CIA mengenai isu Korut.Harrison menyalahkan pemerintah AS yang bersikeras menuntut Korut menghentikan program uraniumnya yang masih merupakaan dugaan. Padahal seharusnya AS lebih dulu bernegosiasi mengenai penghentian fasilitas plutonium yang jelas-jelas dimiliki negeri komunis itu.Menurutnya, sikap AS itu telah membuat terhentinya dialog nuklir, sementara Pyongyang terus bergerak untuk memproduksi bom atom dengan program plutoniumnya. "Intelijen dimanipulasi untuk tujuan politik," ujar Harrison dalam artikel tersebut.Harrison mengklaim, hal ini dilakukan AS untuk menghentikan upaya-upaya Korsel dan Jepang menuju rekonsiliasi dengan Korut. Juga agar terus membuka opsi "perubahan rezim" seperti halnya kasus Irak.Ditegaskannya, bahaya yang didatangkan oleh program plutonium Korut justru jauh lebih besar dibandingkan ancaman yang dibawa program pengayaan uraniumnya yang masih sebatas dugaan dan sangat sedikit diketahui.
(ita/)










































