“Itu tergantung partai. kalau saya boleh pilih, saya pilih pak Djarot, bekas Wali Kota Blitar,” kata dia ketika ditemui di Balai Kota, Selasa (25/3). Ahok beralasan, politisi PDIP tersebut sudah punya pengalaman mengurusi birokrasi.
Pengalaman sedekade di bidang pemerintahan menjadi nilai lebih bikin Ahok melirik Djarot. Itu jadi keunggulan tersendiri dibanding nama-nama lain yang berlatar belakang aktivis. “Karena dia (Djarot) sudah terbukti 10 tahun di Blitar, kalau aktivis kan belum terbukti di pemerintahan,” ujarnya.
Sebelumnya, ada sejumlah tokoh yang disebut-sebut cocok mendampingi Ahok, salah satunya Teten Masduki. Politisi PDIP ini berlatar belakang aktivis antikorupsi. Walau begitu, Ahok tak meragukan kemampuan dan integritas Teten yang pernah bertarung dalam Pilkada Jawa Barat beberapa waktu lalu.
“Bukan berarti enggak bisa atau integritasnya kurang. Tapi di sini kan stresnya tinggi, di sini bukan latihan otak tapi latihan otot, otot jantung sama otot saraf supaya enggak stroke,” kata dia manambahkan seraya tertawa.
Lebih lanjut, Ahok mengatakan peluang Teten dan Djarot maupun sejumlah nama lain masih tetap terbuka menjadi calon wagub. Peluang keduanya lebih tinggi dibanding Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang juga kerap disebut pas jadi wakil Ahok.
“Bupati Banyuwangi kan PKB, kalau Teten dan Djarot dari PDIP,” ujarnya. Tapi penentuan nama calon itu diserahkannya ke partai koalisinya PDIP. “Saya enggak tahulah, yang urus partai, saya kerjasama dengan siapapun oke-oke sajalah,” pungkasnya.
(ros/fjr)










































