Sempat Ditolak, Dino Letakkan Bunga di Monumen MacDonald House Singapura

Laporan dari Singapura

Sempat Ditolak, Dino Letakkan Bunga di Monumen MacDonald House Singapura

- detikNews
Selasa, 25 Mar 2014 10:11 WIB
Sempat Ditolak, Dino Letakkan Bunga di Monumen MacDonald House Singapura
Singapura - Mantan dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal meletakkan bunga di monumen korban ledakan MacDonald House, Singapura. Dino juga ditemani diaspora Indonesia di Singapura.

Sebelum prosesi peletakan bunga dimulai, Dino sempat mengalami kendala. Meski telah mengantongi izin dari pihak kepolisian beberapa hari sebelumnya, namun pihak pengelola gedung sempat menolak.

Setelah melakukan lobi selama sekitar 30 menit, akhirnya pihak pengelola memberikan izin. Namun waktu peletakan bunga dibatasi selama sekitar 15 menit.

"Mari kita doakan 3 orang korban ledakan Mac Donald House pada Maret 1965," kata Dino di Monumen Mac Donald House, Jl Orchard, Singapura, Selasa (25/3/2014).

Prosesi ini sempat mengundang perhatian warga setempat. Beberapa warga yang tengah melintas di area tersebut menoleh dan memelankan langkahnya.

Setelah prosesi selesai, bunga tersebut harus segera diambil kembali. Pihak pengelola gedung tak mengizinkan bunga-bunga tersebut ditinggalkan di sekitar monumen.

Dino mengaku tak menghubungi pejabat pemerintah setempat. Ia hanya meminta izin pada kepolisian Singapura.

"Tapi saya sudah kasih tahu kedutaan Singapura yang ada di Indonesia," kata peserta konvensi Partai Demokrat ini.

Namun ia tak menjelaskan bagaimana reaksi kedutaan Singapura yang ada di Indonesia itu. "Reaksinya, silakan tanya ke mereka (kedutaan Singapura di RI) saja," katanya.

Dino mengaku tak ada niat lain selain mendoakan korban. Menurutnya hal tersebut justru merupakan tindakan yang mulia.

"Agama mana yang tidak mengizinkan umatnya saling mendoakan?" kata Dino.

Ia berharap tindakannya tersebut akan dicontoh oleh warga Indonesia di Singapura serta warga Singapura di Indonesia.

"Ini adalah politik do the right things. Kita jangan hanya memikirkan populisme saja, tetapi apa yang apa yang baik dan patut, wajar kita lakukan," tutupnya.

(kff/fjr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads