Agar nyawa Satinah tertolong, dia harus membayar uang diyat (uang pengganti) sebesar Rp 21 miliar (pemerintah menyebut Rp 25 miliar). Uang yang cukup besar jika hanya dibebankan pada Satinah sendiri.
Prihatin atas kondisi tersebut, puluhan PRT menggalang dana di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Senin (24/3/2014). Mereka membawa kardus bertuliskan 'Solidaritas Untuk Satinah' dan membentangkan spanduk bertuliskan #Save Satinah, Rupiah anda akan menyelamatkan Satinah'.
Humas aksi, Jumiyem mengatakan, apabila berharap pada pemerintah, tentu akan sulit. Sehingga diperlukan aksi nyata.
"Biar hanya sedikit, tapi ini kepedulian kami. Karena negara lambat menanganinya," kata Jumiyem di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Para PRT menilai seharusnya pemerintah mengetahui sejak awal, sehingga Satinah bisa diselamatkan. Mereka mendesak, Presiden SBY turun tangan membebaskan Satinah dari eksekusi hukuman pancung di Arab Saudi.
Beberapa waktu lalu, penggalangan dana juga dilakukan anggota DPR. Bahkan musisi Melanie Subono mengaku dirinya sudah melakukan hal itu sejak tahun 2007. "Uangnya kurang Rp 3 miliar," terang Melanie saat dikonfirmasi detikcom, Senin (24/3/2014).
Satinah terancam dihukum mati awal April mendatang terkait kasus perampokan dan pembunuhan. Pemerintah mengaku sudah berusaha melobi dan mengirimkan surat. Bahkan tim pelobi baik melalui PJTKI, relawan dan dubes RI untuk Arab Saudi juga sudah berupaya berkali-kali.
"Namun keputusannya di Arab Saudi tidak berubah tetap hukuman mati," kata Menko Polhukkam Djoko Suyanto di Yogya hari ini.
(try/try)










































