PDIP: Prabowo Jangan Sok Suci!

PDIP: Prabowo Jangan Sok Suci!

- detikNews
Senin, 24 Mar 2014 16:41 WIB
PDIP: Prabowo Jangan Sok Suci!
Jokowi Widodo dan Prabowo Subianto.
Jakarta - Serangan calon presiden Partai Gerindra Prabowo Subianto ke kubu capres dari PDI Perjuangan, Joko Widodo (Jokowi) ditanggapi miring oleh PDIP. Partai berlambang banteng moncong putih ini menilai serangan berupa sindiran-sindiran Prabowo sangat tidak pantas dilontarkan.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP Eva Kusuma Sundari mengatakan meski Prabowo tidak menyebut langsung sindiran tersebut ditujukan ke siapa namun terlihat sasarannya ke capres PDIP, Jokowi. "Kayaknya ke pihak kita (Jokowi-PDIP)," kata Eva saat dihubungi detik, Senin (24/03/2014).

Eva mengaku sangat menyesalkan berbagai sindiran Prabowo di beberapa kampanye Gerindra yang antara lain menyebut pemimpin pembohong, pemimpin boneka, pemimpin tidak santun, dan mencla mencle. Ahad kemarin, Prabowo dalam kampanyenya di GBK
Senayan, kembali melontarkan sindiran-sindiran bernada negatif.

Anggota Komisi Hukum DPR ini tidak bisa menerima sindiran Prabowo tersebut karena dianggapnya subyektif. Eva menegaskan soal perjanjian Batu Tulis antara Prabowo dan Megawati yang diungkit-ungkit Prabowo tidak relevan.

"Kita harus lihat track record masing-masing secara benar dan jernih. Apakah Pak Prabowo punya track record yang selalu baik," ujar Eva membeberkan.

"Jangan merasa sok suci, jangan merasa paling benar, jangan menelanjangi diri sendiri," kata Eva menekankan lebih lanjut.

Eva lantas meminta Prabowo tidak lagi melakukan serangan-serangan seperti itu karena publik juga sudah cerdas dan bisa menilai pemimpin yang baik. "Stop sindiran-sindiran yang begitu," Eva menegaskan. Menurut Eva, Prabowo dalam orasi politiknya sering menyindir ke Jokowi dan PDIP karena tingkat popularitas dan elektabilitas Jokowi sangat baik.

Adapun Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi menyatakan Prabowo melakukan sindiran untuk mengingatkan bahwa setiap pemimpin atau capres harus jujur dan konsisten karena rakyat menilai pemimpin dari hal tersebut.

"Jangan bohong, bahaya!" kata Suhardi mengingatkan. "Kalau bicara A tetap A, dan B ya B," ujar Suhardi menegaskan saat dihubungi detik, Senin (24/04/2014).

(brn/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads