"Saya itu dipanggil oleh kiai Nawawi untuk bicara mengenai situasi dan perkembangan politik serta prospeknya ke depan," ujar Mahfud MD kepada wartawan di kediaman Kiai Nawawi, Senin (24/3/2014).
Mahfud bertemu empat mata dengan Kiai Nawawi. Ia mengaku membicarakan perkembangan politik dan opsi sesudah 9 April, baik mengenai hasil pileg dan akibat hukumnya, serta prospek calon presiden ke depan.
Dirinya juga diminta Kiai Nawawi menjelaskan perspektif ke depan, termasuk dengan kaitannya capres dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
"Mengenai pencapresan, ada bagian yang harus tidak saya sampaikan ke pers. Tadi kita juga membahas kaitannya dengan Prabowo, Jokowi, Aburizal, Pak Hatta, semua kita ceritakan. Perspektif politiknya seperti apa dan kira-kira aspirasi kaum nahdliyin ke mana," terangnya.
Ia menegaskan, belum bisa mengatakan siap atau tidak maju sendiri sebagai capres dari PKB atau digandengkan dengan Prabowo, Jokowi atau capres lainnya. Katanya, ada beberapa opsi jika dirinya maju di pilpres harus mempunyai kendaraan politik yaitu melalui PKB.
"Meskipun saya orang NU dan NU itu partainya ada di mana-mana, tapi saya harus lewat 1 (satu) partai yaitu PKB," ujarnya.
Ia menceritakan dirinya maju sebagai capres dari PKB, karena mantan Menteri Pertahanan era Gus Dur itu memang orang PKB.
"Kalau saya ikut partai lain kok nggak etis rasanya. Saya orang PKB kok hanya mau jadi calon presiden berpindah ke partai lain. Dulu saya nggak mau ikut Partai Demokrat untuk ikut konvensi capres PD, karena itu nggak etis," katanya.
"Opsi lainnya, bisa ikut koalisi dengan partai-partai besar seperti PDIP, Gerindra, ada yang lain. Juga bisa partai sendiri (PKB) memimpin koalisi partai-partai tengah, itu sangat mungkin. Jadi opsinya masih ada sekitar 3 sampai 4, semuanya masih terbuka," ujarnya.
Mahfud menambahkan, dirinya harus menunjukkan visi ke depan tentang bagaimana membangun bangsa dan bagaimana meletakkan aspirasi NU di bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan sebagainya.
"Jadi keputusan akhir dari opsi-opsi tentu saya konsentrasikan dengan tokoh-tokoh kunci di NU, pesantren, dan semuanya. Nah itu semua masih terbuka cukup luas terhadap siapa pun. Kata kiai Nawawi saya diminta menjalani opsi-opsi itu dan nanti dibicarakan lagi. Pada saatnya akan istikharah bersama-sama," tandasnya.
(bdh/try)











































