"Banyak warga yang teriakin ada kereta, maksudnya biar ngehindar dari rel. Tapi nggak denger, dia jalan terus. Mungkin nggak denger, soalnya dia lagi nelepon pake HP," kata Komandan Regu Polisi Khusus Kereta Stasiun Bogor, Agus Kusnadi, kepada wartawan.
Pria nahas tersebut tertabrak KRL yang datang dari arah Jakarta ke Bogor. Saat itu, korban diduga hendak menyeberangi perlintasan kereta api di Jalan Soleh Iskandar. Selanjutnya, korban yang tidak sadar ada KRL yang datang dengan kecepatan tinggi dari arah Jakarta, kemudian terserempet dan terpental sejauh 50 meter.
"Korban meninggal di lokasi. Lukanya parah di bagian kepala," ujarnya.
Hingga saat ini identitas korban belum terungkap. Saat dievakuasi, tidak ada satupun kartu identitas di tubuhnya. Korban mempunyai ciri-ciri fisik antara lain, tinggi sekitar 160 cm, kulit sawo matang, rambut pendek, menggunakan celana jins hitam, berkaos warna cokelat, dan topi warna putih.
"Dugaan awal sih warga sekitar. Tapi ketika di lokasi, nggak ada warga yang kenal. Makanya langsung dibawa dulu ke RS PMI," kata Agus.
Di perlintasan tersebut, menurut warga, memang kerap terjadi kecelakaan kereta api (orang tertabrak kereta). Pasalnya, meski bukan penyeberangan yang resmi dan tanpa palang pintu, perlintasan itu kerap dipakai warga menyeberang.
"Kalau motor memang nggak bisa nyeberang. Tapi, kalau jalan kaki bisa. Orang yang dari jalan Soleh Iskandar mau pindah angkot, nyeberang lewat sini. Karena angkotnya yang dituju kan ada di seberang rel. Jadi, memang banyak yang nyeberang lewat sini," kata Afud (31) warga sekitar saat ditemui wartawan.
Saat ini jasad korban berada di RS PMI. Petugas menunggu anggota keluarga menjemput korban.
(try/try)











































