Hal itu disampakan Menteri Luar Negeri Belanda Frans Timmermans menjelang dimulainya KTT Keamanan Nuklir dalam konferensi pers mendampingi PM Belanda, Minggu (23/3/2014) sore waktu setempat.
"Dengan demikian dapat untuk menangkap mereka yang bertanggung jawab atas pencurian," ujar Timmermans.
Menurut Timmermans, Netherlands Forensics Institute (Lembaga Forensik Belanda) adalah salah satu lembaga terdepan dalam bidang ini.
Belanda telah membawa sebuah komunitas ahli bersama-sama di bidang ini dan mereka bekerjasama mengembangkan platform pengetahuan, leksikon, manual pengalaman terbaik dan kurikulum pelatihan.
Salah satu substansi KTT Keamanan Nuklir ini adalah untuk menanggulangi terorisme nuklir dengan mencegah bahan nuklir berbahaya jatuh ke tangan-tangan tidak tepat.
Sebelumnya Timmermans menggambarkan bahwa perjalanan masih sangat jauh untuk menuju sistem keamanan nuklir efektif seluruh dunia, tetapi KTT Keamanan Nuklir merupakan percepatan yang sangat vital.
Timmermans menekankan dengan contoh spesifik bagaimana sekelompok negara telah bekerjasama di bawah payung KTT Keamanan Nuklir ini dan hasil kerja mereka itu dipresentasikan pada kesempatan tersebut.
KTT Keamanan Nuklir 2014 di Den Haag ini diikuti oleh 53 negara: Afrika Selatan, Aljazair, Amerika Serikat, Argentina, Armenia, Australia, Azerbaijan, Belanda, Belgia, Brazil, Chile, Cina, Ceko, Denmark, Finlandia, Prancis, Gabon, Georgia, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Hongaria, India, Indonesia, Inggris, Israel, Italia, Jepang, Kazakhstan, Lithuania, Malaysia, Marokko, Meksiko, Mesir, Nigeria, Norwegia, Pakistan, Philippina, Polandia, Rumania, Rusia, Saudi Arabia, Singapura, Selandia Baru, Spanyol, Swedia, Swiss, Thailand, Turki, Ukraina, Uni Arab Emirat, Vietnam, dan Yordania.
Selain itu juga 4 organisasi internasional, yakni International Atomic Energy Agency, Interpol, Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka hadir sebagai observer (pengamat).
(es/es)











































