"Kami memandang beliau (Jokowi) sebagai kompetitor. Ini kan negara bebas dan siapapun bisa maju asal diusung parpol. Saya lihat, dan OK, kita bersaing secara sehat nanti," kata Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo kepada detikcom di lapangan terbang Sultan Abdul Aziz Syah, Malaysia, Minggu (24/3/2014) malam.
Hashim mengeku kecewa dan menyesalkan pencapresan Jokowi tanpa pemberitahuan. Karena sudah ada kesepakatan dalam bentuk perjanjian Batu Tulis yang diteken Prabowo-Mega tahun 2009 silam.
"Ya saya kan menyesal. Ya saya kecewa lah. Kami dan Pak Prabowo kecewa karena perjanjiannya sudah begitu jelas. Sudah ada kesepakatan antara PDIP dan Gerindra kok tidak dihormati," kata Hashim.
Sebenarnya, Hashim melanjutkan, Prabowo tak masalah perjanjian itu tidak diteruskan. Namun seharusnya ada pembicaraan awal antara Mega dan Prabowo terkait hal ini.
"Tapi kan Pak Prabowo tidak pernah dipanggil Bu Mega untuk bicara. Kan seharusnya bicara 'eh mas Bowo, memang saya nggak bisa penuhi perjanjian yang 6 tahun lalu, karena alasannya begini, begini, begini'. Saya kira kalau begitu sudah cukup lah," keluh Hashim.
Prabowo memang semakin santer melempar sindiran ke Jokowi. Dari imbauan agar masyarakat tidak memilih capres mencla-mencle, sampai sindiran tajam soal capres boneka.
(van/try)











































