DetikNews
Senin 24 Maret 2014, 09:15 WIB

Ini Pengakuan Lengkap Olivia Soal Wisata ke Maladewa Bareng Ical

- detikNews
Ini Pengakuan Lengkap Olivia Soal Wisata ke Maladewa Bareng Ical Foto: Herianto Batubara
Jakarta - Olivia Zalianty buka-bukaan soal perjalanan wisatanya ke Maladewa bersama Ketum Golkar Aburizal Bakrie (Ical). Olivia menepis dugaan ada affair antara dirinya, ataupun kakaknya Marcella Zalianty, dengan Ical.

Olivia mengatakan perjalanan wisata ke Maladewa itu terjadi pada awal tahun 2010. Perjalanan itu tak hanya diikuti empat orang, yaitu dirinya, Marcella Zalianty, Azis Syamsuddin, dan Ical, tapi beramai-ramai.

Olivia juga menjelaskan soal foto-foto yang ramai diperbincangkan. Berikut wawancara detikcom dengan Olivia di wilayah Jakarta Selatan, Sabtu (22/3/2014):

Kapan perjalanan wisata Anda bersama Pak Ical ke Maladewa?

Mungkin itu bisa dicek di video itu 2009 atau 2010 tepatnya. Rasanya sih 2010 awal, atau 2009 akhir gitu, kan udah lama gitu, saya lupa.

Tujuan?

Maldive

Berangkat dari?

Jakarta

Yang berangkat siapa aja?

Yang berangkat beberapa orang, tidak hanya berempat. Cuma di situ dibuat seolah-olah bagaimana-bagaimana. Kita maaf-maaf saja, maksudnya gimana kita, maksudnya aku bukan artis-artis yang gimana gitu, ya saya juga punya urusan, punya bisnis lain, yang memang saya pernah berhubungan dengan rekanan kerja Pak Ical.

Itu maksud saya, perjalanan biasa untuk kita. Kita itu bukan, kalau sekarang itu istilahnya tanda kutip, nggak mungkin saya ngambil kamera, terus saya pakai kamera kantor, terus saya taruh di ruang editing, kan pertanyaannya itu, karena saya nggak mikir itu tuh apa-apa gitu loh. Itu bukan sesuatu yang aneh. Ngapain juga saya ngambil pakai kamera profesional saya, dengan juru kamera saya. Saya juga nggak ngerti cara transfer, apa segala itu dibiarkan di ruang editing. Memang itu saya kebiasannya kan, saya diving ke mana-mana, hampir ke seluruh Indonesia, dan saya biasa ngambil shoot-shoot perjalanan. Kita taruh gitu dan nggak ada yang kita umpet-umpetin. Terus terang, ini terjadi ya karena memang adanya suatu apa ya.... Itu dari kamera kantor, pas ditemukan, emang waktu dicek itu kartu-kartu kantor emang banyak yang hilang.

Nah kenapa kok baru dikeluarinnya sekarang, padahal kejadian itu pas 2010 dan tidak terjadi apa-apa. Dan mungkin ini ke arah black campaign, kan rasanya aneh banget gitu kalau... kurang lah, kurang elegan kalau untuk black campaign seperti itu.

Tujuan perjalanan itu untuk apa?

Bisnis pariwisata. Saya kan bisnis juga. Bisa dicek lah, saya punya ini juga. Kerjaan saya di London juga. Saya punya beberapa investor. Kadang-kadang saya suka arrange pertemuan-pertemuan bisnis. Jadi saya juga melihat Indonesia ini negara kepulauan yang seharusnya pariwisata itu bukan menjadi cost, tapi menjadi investasi yang seharusnya. Misalnya, contohnya Maldive itu kan negara kepulauan yang kecil, gitu aja bisa sukses gitu loh. Jadi ya perjalanan kita untuk lihat juga. Kita cuma sebentar, langsung pulang besoknya. Ini bukan perjalanan seperti yang dipikir orang atau gimana.

Hubungan Anda dengan Pak Ical seperti apa?

Hubungan saya dekat sekali sama Ardie (putra Ical). Saya itu istilahnyanya, sebelum Pak Ical menjabat jadi menteri apa dan apa, saya tuh udah main sama anak-anaknya. Terutama Ardie yang seumuran saya. Sebelum nikah sama Nia itu dekat sekali hubungannya, bahkan saya sering main di rumahnya. Ibunya pun ada kalau saya main di rumahnya. Dan untuk perjalanan ini, anaknya pun tahu, ibunya pun tahu, Tante Tatty (istri Ical-red) tahu.

Kenal sama Ardi sejak kapan?

Dari sering main basket, saya kan anak basket, zaman dulu. Kenal sejak SMA, tapi yang dekat-dekatnya banget kuliah, karena kan zamannya SMA itu saya nggak boleh pergi keluar rumah, kecuali sama keluarga saya.

Satu tempat kuliah?

Nggak, beda. Dia kan kuliah di luar negeri, saya di sini. Saya kenal sama saudara-saudaranya semua.

Tentang perjalanan dengan Pak Ical, bagaimana awal mulanya?

Ya pergi aja biasa, dengan rame-rame. Dan Pak Ical bukan ngajak saya doang, rame-rame juga.

Pak Ical sendiri yang inisiatif mengajak anda?

Iya, dengan tim lain juga.

Tujuan Pak Ical mengajak Anda?

Ya untuk bisnis pariwisata. Untuk melihat-lihat apa kemajuan pulau-pulau di sana. Saya juga ada alasan bisnis juga.

Yang diajak Anda atau Marcella?

Yang diajak saya. Kemudian saya membawa, karena untuk dokumentasi, dengan juru kamera saya. Saya juga mengajak kakak saya (Marcella-red). Bahkan saya juga menawarkan waktu itu mau ngajak Mas Nanda (Ananda Mikola-red), karena kan pada saat itu kakak saya masih pacaran. Tapi kan saya ngomong dong sama Mas Nanda, 'kak', aku manggilnya kakak kan, 'aku diajak ini, pergi yuk. Dia tanya, pas kapan gitu, aku pas nggak bisa'. Kak Nanda-nya nggak bisa. Kak Nandanya juga tahu, ya udah oke, pergi gitu. Dan menurut kami perjalanan ini udah lama, dan kita semua tahu. Keluarga kakak saya juga tahu, ibu saya tahu, keluarganya Pak Ical juga tahu, istrinya Pak Ical juga tahu. Karena Pak Ical itu selalu bilang juga sama keluarganya mau pergi sama saya, sama kakak itu kan. Ya udah deket lah, sama Ardie apalagi. Istilahnya kita kan selifting, main basket, kita sering olahraga juga memang.

Kita memang melihat potensi pariwisata, karena memang Maldive itu negara kepulauan yang bagus lah. Karena kalau saya lihat Indonesia, Indonesia itu jauh lebih bagus. Namanya Bandanera, Raja Ampat, Sulawesi, Berau, lihat itu Pulau Maratua, Kakaban, dan itu jauh lebih bagus. Kenapa Maldive bisa bagus Indonesia nggak?

Marcella juga akrab dengan keluarga Pak Ical?

Mbak Marcella juga akrab dengan Ardie, anaknya. Jadi memang, terus terang ya, ini tuh terjadi sebenarnya saya sudah dengar dari sebelum-sebelum lalu. Jadi itu sempat ada suatu kaya teror pemerasan. Saya ditelepon, terus terang sama salah satu sumber dari Partai Golkar.

Dia itu bilang, 'Mba, ada video ini-ini nggak? Saya pikir apa ya, dia bilang kita diini-iniin nih. Nggak, nggak ada, apaan gitu? Jadi waktu itu katanya pergi di kapal gitu, di apa gitu.

Kapan ditelepon sama orang Golkar?

Kira-kira seminggu sebelum berita ini heboh. Cuma aku pikir, gila ya, kaya gitu jangan ditanggepin deh.

Dan masalah boneka, itu terus terang saja, kalau tahu perjalanan saya sebelumnya, saya punya satu boneka dan emang itu saya namain. Jadi bukan hanya Pak Ical saja yang foto sama boneka itu. Jadi artis-artis seperti Iwan Fals, saya seneng gitu loh. Iwan Fals foto, bahkan Om Slamet Rahardjo foto, Om Ray Sahetapy, intinya simbol. Jadi itu maksudnya apa ya, kalau dilihat-lihat nih perjalanannya, si boneka itu udah keliling dunia juga. Dan saya punya ininya (foto-red) gitu loh.

Mba Olivia yang minta Pak Ical untuk peluk boneka dan difoto?

Iya. Jadi itu, gila ya kalau tiba-tiba digunakan untuk kepentingan menjatuhkan itu kasihan banget. Jadi kalau saya lihat, setiap keliling negara, saya buat foto (dengan boneka-red), saya memang senang, dan banyak. Artis juga. Memang kadang orang, 'ini apa sih (foto dengan boneka-red)?' Saya kadang dimarahin sama ibu, sama orang lain juga gitu. Ini umroh saya bawa dan bajunya ganti-ganti. Diving, kalau dilihat di klub saya diving, kemana-mana saya bawa. Jahat banget kalau sekarang dijadikan kaya lelucon untuk kepentingan black campaign, karena itu boneka itu sebenarnya biasa aja.

Kegiatan di sana ngapain aja? Langsung ke cottage yang ada video itu?

Iya, sampai di sana terus makan siang. Kita ngelihat-lihat, oh ini bagus. Kenapa ya? Aku penasaran banget, ini harus dibawa ke Jakarta, kenapa investor, karena kita juga bertemu beberapa investor, kenapa sih ini tuh nggak bisa ini investasi di Jakarta? Kita presentasi dong pulau-pulau kita, karena saya juga mengerjakan video pariwisata. Waktu itu zamannya masih (Kementerian-red) Budpar, bukan Parekraf. Kita ngerjain video pariwisata 7 pulau. Aduh, ngelihat Indonesia nggak habis-habis kalau dibuatin buku. Kenapa investor-investor, hotel-hotel mewah investasinya di sana (Maldive-red)? Kan harus dipelajarin. Kita ingin menarik investor dari asing. Istilahnya untuk bangun-bangun hotel di sini, karena indonesia ini dengan pariwisata saja udah bisa hidup.

Jadi, untuk penegasan, apakah ada affair antara Pak Ical dan Marcella?

Ini tentu tidak ada apa-apa. Bisa digarisbawahi, tidak ada apa-apa. Bisa diyakini betul, karena kakak saya, (saat itu-red) masih pacaran sama Nanda. Juga waktu itu belum nikah. Itu (Ananda-red) juga tahu. Bahkan saya ngajak, 'mau nggak pergi?', dan memang dia nggak bisa, tapi dia mengizinkan. Pak Ical dengan keluarganya juga tahu benar. Tante Tatty pada saat itu tahu. Pak Ical bilang dulu kita pergi. Ardie juga tahu, karena memang saya temenan sama Ardie. Itu sesuatu hal yang biasa, makanya pada saat orang meneror, pemerasan dan sebagainya itu dengan jumlah yang fantastis, kita semua nggak ada yang mikirin, sebab tidak ada apa-apa. Cuma kita kan tidak tahu.

Logikanya kalau ada apa-apa, mungkin nggak saya pergi bawa juru kamera dengan satu kamera profesional? Maksudnya seperti sesuatu yang tidak perlu diumpet-umpetin. Terus kemudian menaruh barang itu juga bukan menaruh di tempat yang diumpetin, tapi di mana emang cuma beberapa orang yang punya akses masuk ke ruang editing saya. Cuma ya cukup banyak, karena kamera itu kan setelah itu dipakai syuting iklan dan sebagainya. Maksud saya, kalau memang ada apa-apa, nggak mungkin dong saya ber.... ngajak orang-orang yang transferin gambarnya (melihat video-red). Nah, sekarang kenapa begini? Kan berarti ada orang jahat sekali, bisa begitu sama kita. Dan pertanyaannya, kenapa baru sekarang? Perjalanannya kan 2010.

Ada foto-foto yang tersebar yang kemudian ditafsirkan macam-macam, terutama foto Pak Ical dan Mba Marcella seperti keluar dari sebuah kamar, bagaimana penjelasannya?

Sekarang begini, kalau memang begini (menunjuk foto-red) ngapain saya foto? Masalahnya yang foto kan saya sendiri. Ada juru kamera saya. Kita kan foto-foto biasa saja, kaya kita keluarga terus ngambil foto. Jadi nggak ada apa-apa. Nggak mungkin dong kalau ada apa-apa saya foto.

Jadi penjelasan foto Pak Ical dan Marcella yang seolah keluar dari kamar itu bagaimana? Apa benar adegannya keluar dari kamar?

Menurut saya nggak ada apa-apa. Jadi ini saya lagi motret semua lokasi. Jadi semua lokasi ini semua bagus, bentuk kamarnya, bentuk kolamnya. Jadi saya semua motret. Jadi saya tahu banget kakak saya itu. Kakak saya itu saya yang ngajak, bersama juru kamera.

Saya tahu betul kakak saya seperti apa. Kita tuh hidup bareng. Istilahnya, TK-nya bareng, terus sampai kuliah itu di sekolah yang sama. Kamarnya tidurnya sebelahan, dibatasin kamar mandi. Kita sedekat itu. Jadi ke mana-mana pun saya pergi, saya bahkan pergi ada urusan main ke Thailand, ke Singapura, misalkan saya nonton F1 sama teman-teman ramai-ramai, atau urusan lain, bisnis misalnya, saya selalu ajak kakak saya, dan selalu saya bilang dengan pacar kakak saya.

Dengan Azis Syamsuddin berteman?

Ya, dia diajak aja sama Pak Ical.

Baru kenal di sana?

Nggak, kan udah ada acara olahraga itu, acara KPN, sering orang tahu.

Berangkat ke Maldive dengan jet pribadinya Pak Ical?

Iya, karena kita tadinya mau pulang balik, cuma capek. Jadi kan memang pergi, ngelihat, terus pulang. Kita nggak tergantung dengan jam, orang kita cuma berencana sebentar, kecuali kalau kita trip lama, itu baru di-plan.

Jadi berapa lama di sana?

Cuma semalam.

Nama cottage-nya apa?

Saya lupa nama cottage-nya.

Biar ditegaskan lagi, bahwa di antara Mba Olivia dan Marcella tidak ada yang sekamar dengan Pak Ical?

Tidak ada. Tidak ada yang sekamar dan saya bisa menjamin kakak saya itu. Saya tahu benar kakak saya. Jadi mereka-mereka sendiri, saya saya sendiri. Selayaknya orang traveling saja.

Yang paling penting itu harus digarisbawahi yang masalah boneka itu. Ya kalau saya memperlihatkan gambar-gambar foto si Timi (boneka beruang-red) dengan yang lain, misalkan, dengan Iwan Fals. Makanya saya pengen yang populer, misalnya Iwan Fals, foto dengan boneka itu, dipeluk.

Orang juga bertanya, baju-bajunya di sana seksi?

Kita itu kan pergi ke negara tropis, menurut saya cocok, sesuai. Dan menurut saya, itu nggak seksi. Kalau di negara tropis biasa-biasa aja.

Lalu bagaimana video ini bisa bocor?

Tadi yang saya bilang, karena saya tidak menganggap ini sebagai sesuatu barang yang harus disembunyikan. Pada awalnya kita membuat ini, saya membawa juru kamera dalam perjalanan itu untuk didokumentasikan. Dan saya ke mana-mana, saya ke Kalimantan, saya pergi ke Sulawesi, ada semua dokumentasinya

Tepatnya ada berapa orang yang ikut?

Pokoknya ramai-ramai. Ada juga yang bukan naik pesawatnya (Pak Ical-red). Pak Ical juga undang beberapa tim ke sana juga.

10 Orang lebih?

Saya nggak ngitungin berapa jumlahnya.

Jadi maksud saya di sini, kalau memang ini gimana-gimana saya nggak mungkin menggunakan kamera kantor dan bawa juru kamera. Kemudian saya nggak mungkin taruh ini (kamera-red) yang di tempat ada orang bisa akses masuk, di ruang editing saya. Jadi betapa ada orang yang merekayasa ini, ngambil yang nggak tahu lah tujuannya apa. Tapi kan sudah jelas sekali ada yang namanya teror, pemerasan, itu kita cuekin aja. Dan beritanya dibuat seperti ini dan seolah treatmennya berbeda.

Kalau dugaan Mba Olivia siapa yang menyebar video itu?

Tersebarnya sudah pasti dari orang-orang yang punya akses masuk ke ruang editing dan menggunakan kamera itu, karena itu tidak menjadi barang yang harus ditutup-tutupi. Jadi saya taruh begitu saja, cuma ada yang salah memanfaatkan kan. Jadinya tidak bagus, merugikan semua ini. Jadi yang saya harapkan mudah-mudahan lah orang yang istilahnya yang.... saya juga tidak tahu siapa, kan nggak boleh nuduh ya namanya, ya mudah-mudahan sadar gitulah. Jangan zalim begini. Mudah-mudahan hatinya dibuat baik.

Sekali lagi, penegasan, jadi di sana kegiatannya apa?

Ya nggak ngapa-ngapain, foto-foto aja, karena saya memang bawa kamera. Maksud saya, melihat alam bawah lautnya dan semuanya lah. Namanya pergi ke sana, makan, foto. Ada pertemuan bisnis juga.

Dugaan motif penyebaran video itu apa?

Saya rasa apa ya, saya nggak begitu ngerti politik, mungkin orang politik yang menjawab itu. Mungkin saya cuma saya melihatnya ini sih sebagai... Rasa kemanusiaannya jahat banget, karena itu video, istilahnya video biasa saja. Bagaimana dikemas treatmennya jadi luar biasa. Padahal kan itu video tidak ada apa-apa. Jadi saya juga nggak ngumpetin video itu karena takut dicuri. Saya taruh di tempat bebas. Berarti apa? Secara kemanusiaan kan itu jahat banget. Nah, manusia jahat itu, entah tidak terlalu ngerti juga, dipergunakan sama orang yang mungkin punya kepentingan politik. Mungkin ya, karena saya juga nggak terlalu ngerti.

Jadi pergi pada saat itu kita kan juga punya handphone. Saya tuh taruh (foto di Maldive-red) di profil picture, kirim-kiriman sama anaknya. Pada saat itu nggak ada yang komentar (foto profil picture-red). Ini perjalanan ramai-ramai. Kita foto-foto dengan boneka saya juga, nggak ada yang komentar waktu itu. Anak-anaknya juga tahu, paling mereka tanya, 'eh di mana say', 'di sini, di sini, seru banget deh. Eh bagus nih', misalnya tempatnya bagus, 'eh begini', jadi komunikasi. Nggak ada yang peduli saat itu. Kenapa baru pada 2014 ini, di tahun-tahun politik ini disalahgunakan gambar itu. Rasanya ya, terus terang saja, maksudnya maaf deh, kita juga bukan bisa diduga kayak yang ditreatment seperti itu. Dan kakak saya juga nggak mungkin seperti itu. Saya yakin betul, dan hubungan kami dengan keluarga Pak Ical juga sangat baik.

Mbak Marcella gimana reaksinya?

Dia cuma, 'ih apaan nih'. Dia itu lupa, bahkan dia itu nggak tahu itu dia. 'Kapan itu?' gitu. Kita tuh nggak yang terlalu ingat karena menurut kita nggak ada yang terlalu penting. Itu biasa aja. Jadi pada saat saya bilang ada teror itu segala macem, kita nggak ada yang memperhatikan.

Terornya minta uang?

Rasanya seperti itu

Mau ambil langkah hukum? Lapor ke polisi?

Saya cuma berdoa orang-orang yang melakukan ini disolehkan hatinya. Tapi ya kita berdoa saja sama Allah. Kita begitu prinsipnya, karena saya tidak mau terlibat dalam politik, apalagi black campaign seperti ini. Saya tidak mau terjebak kebawa-bawa, karena saya juga, saya masyarakat biasa, saya seniman, saya businesswoman. Saya nggak mau terjebak dalam black campaign seperti ini. Kita tetap melakukan aktivitas seperti biasanya, kita serahkan sama Allah. Semoga orang yang jahat ini, yang zalim ini, disolehkan hatinya, kemudian bisa menjadi lebih baik lagi.

Nanti kita juga mau bicara, tapi semuanya lagi sibuk. Kita punya kegiatan, Pak Ical juga lagi musim kampanye. Keluarga kakak saya juga sibuk semuanya.

Yakin tidak mau mengambil langkah hukum? Bagaimana jika situasinya makin menyudutkan Anda?

Nanti kita lihat perkembangannya.



  • Ini Pengakuan Lengkap Olivia Soal Wisata ke Maladewa Bareng Ical
    Foto: Herianto Batubara
  • Ini Pengakuan Lengkap Olivia Soal Wisata ke Maladewa Bareng Ical
    Foto: Herianto Batubara

(trq/fjr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed