Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya Minggu (23/3/2014), menyatakan siklon ini mengakibatkan massa udara atau uap air di Riau tertarik ke arah selatan. BMKG memprediksi pada 28 Maret dan selanjutnya potensi hujan di wilayah Riau kembali turun dengan intensitas ringan hingga lebat.
"Keringnya udara di Riau telah menyebabkan titik api yang sebelumnya sudah kecil di bawah gambut memicu kebakaran hutan dan lahan. Selain itu memang masih adanya pembakar baru yang sengaja membakar lahan dan hutan. Meski ribuan aparat sudah digelar namun masih ada oknum yang melakukan pembalakan dan pembakaran," kata Sutopo.
Sutopo menjelaskan, hari ini di Riau masih terpantau hotspot berdasarkan satelit NOAA18 ada 12 titik. Jumlah itu menyebar Indragiri Hilir 3, Bengkalis 3, Dumai 2, Rokan Hilir 1, Meranti 1, Siak 1, Pelalawan 1. Sedangkan dengan satelit Modis ada 66 titik api yaitu di Bengkalis 37, Meranti 8, Dumai 7, Rohil 9, Pelalawan 4 dan Siak 1. Secara umu kualitas udara sudah membaik di lokasi-lokasi yang terpantau.
Sutopo menjelaskan, Kepala BNPB, Syamsul Maarif, yang saat ini masih di Pekanbaru memimpin Satgasnas Operasi Terpadu telah memerintahkan kembali untuk mengoptimalkan satgas udara dan darat untuk melakukan pemadaman.
"Selama ini pengeboman air (water bombing) sangat efektif selain operasi darat dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Selain memfokuskan untuk pemadaman, satgas juga melaksanakan penegakan hukum dan sosialisasi kepada masyarakat terkait larangan pembakaran lahan dan hutan. Titik api harus benar-benar dipadamkan. Apalagi musim kemarau nanti diperkirakan akan lebih kering," tutupnya.
(cha/nal)











































