"Momentumnya tepat karena sekarang muncul wacana yang mengatakan media tidak bebas lagi karena ada unsur-unsur yang mengatur secara langsung atau tidak, baik dari institusi atau dalam media sendiri. Buku ini text book untuk mahasiswa, bagus juga untuk jurnalis agar memberi pemahaman tentang media, khususnya TV," ujar Ishadi dalam acara peluncuran bukunya di Toko Buku Gramedia, Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Sabtu (22/3/2014).
Menurut Ishadi, media saat ini terus menuntut kebebasan tanpa memperhatikan tanggung jawabnya. Ini berbeda dengan media di jaman orde baru yang mendapat banyak batasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun punya pesan bagi sesama pekerja media di masa-masa menjelang Pemilu ini. Menurut Ishadi, yang penting adalah bagaimana media sebagai sarana pencerdasan masyarakat tentang calon-calon pemimpin.
"Media bagaimana menyadarkan masyarakat untuk tidak golput. Ini dasar pertama dalam demokrasi. Media jujur dan objektif, mengangkat kapasitas-kapasitas caleg maupun capres sehingga masyarakat bisa memilih dengan tenang, siapa yang terbaik," ucapnya.
Peluncuran dan diskusi buku ini dimoderatori oleh Sunardi Rinakit serta hadir pula Daniel Dhakidae sebagai pembicara. Daniel membedah isi buku ini yang menceritakan beban besar tiga televisi swasta yaitu Indosiar, RCTI, dan SCTV menjelang kejatuhan Soeharto.
"Bagaimana media milik pemerintah bisa revolusioner? Buku ini membahas beban sangat besar dalam newsroom saat hari-hari menjelang kejatuhan Soeharto. Ketika suasana di luar berubah sangat cepat, media juga berubah cepat. Proses itu yang ditulis Ishadi di buku ini," kata Daniel.
Ishadi tak hanya meluncurkan buku tentang media yang menjadi dunianya saat ini, tapi juga satu buku lagi yang merupakan kumpulan puisi Ishadi untuk sang istri, Meis. Buku berjudul "Puisi Untuk Meis: Puisi-puisi Cinta dan Sebayanya" ia sebut sebagai penyeimbang dari buku sebelumnya yang cukup berat.
(gah/gah)











































