"Ini bukan pengalaman pertama. Dulu 2009 Golkar mengusung Wiranto-Sholahudin Wahid, tapi Pak JK jadi cawapres Pak SBY. Jadi Partai Golkar tidak perlu bergejolak merespon hal ini," kata Ketua DPP Golkar Hajriyanto Y Thohari, Jumat (21/3/2014).
Hajriyanto menuturkan Ketum Golkar Aburizal Bakrie juga tak menghalang-halangi JK untuk maju lewat partai lain. Konsekuensi partai yang diterima tidak mesti pada pemecatan. Karena Golkar tak panik menghadapi situasi semacam ini.
"Saya dengar lewat media massa, Pak Aburizal juga mempersilakan jika Pak JK diajukan capres partai lain. Partai Golkar tidak akan kebingungan," tuturnya.
Hajriyanto juga memaklumi kata-kata Akbar ketika menyatakan kesediaannya menjadi cawapres. Menurut Wakil Ketua MPR ini, tak mungkin politisi sekaliber Akbar menjawab dengan penolakan soal kesediaan menjadi cawapres. Karena semua politisi harus bersedia mengabdi untuk rakyat. Itu bukan sesuatu yang luar biasa.
"Bang Akbar itu politisi senior. Sebagai politisi kan tidak mungkin menjawab 'no comment. Sebagai politisi tulen, tidak mungkin menjawab 'tidak bersedia'," tutur Hajriyanto.
Meski kader-kader kelas beratnya ditarik isu cawapres ke sana-ke mari, namun Golkar meyakini itu tak akan berimbas fatal pada terpecahnya dukungan ke pencapresan Aburizal. Soalnya, tak ada satu partaipun yang bisa solid sepenuhnya mendukung capres dari kalangannya sendiri. Hajriyanto mendasarkan argumennya pada survei-survei yang sudah jamak dipaparkan.
"Kan di survei, ada pendukung dari PDIP malah mendukung capres ke sana dan ke sini, dari Gerindra ada yang malah mendukung capres ke sana dan ke sini, dan partai lain juga sama," kata Hajriyanto memberi permisalan.
(dnu/trq)











































