Pengamatan detikcom, Jumat (21/3/2014), atap halte yang bolong-bolong membuat penumpang yang menunggu bus tidak kerasan. Langit bagai menaungi halte yang bolong itu. Mereka tidak lagi bisa berlindung dan berteduh dari sengatan sinar matahari maupun hujan yang turun.
Halte itu penuh coretan dan kotor. Tidak ada lagi bangku-bangku bagi pengguna angkutan umum untuk menunggu kedatangan bus. Halte itu kini dijadikan pangkalan tukang ojek dan pedagang minuman.
Luqman Diah (25), warga Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, lebih memilih menunggu angkutan di pinggir jalan ketimbang di halte.
"Banyak yang resek kalau di halte. Halte itu kan dijadiin tukang ojek mangkal, para pengamen istirahat dan PKL. Mending saya nunggu di tempat lain," kata Luqman yang sedang menunggu angkutan umum B01.
Penumpang lain, Hadi Wijaya, juga mengaku tidak nyaman menunggu bus di halte. "Mau nunggu di halte gimana? Orang haltenya saja dijadikan tempat berdagang gitu," kata Hadi.
(aan/nrl)











































