Dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (20/3/2014), Hatta mengungkap komitmen PAN terhadap regenerasi kepemimpinan nasional. PAN termasuk partai yang terus berusaha melahirkan pemimpin muda.
Namun tidak hanya muda saja, PAN juga mendorong kepemimpinan nasional diisi tokoh muda yang berkarakter jujur, memegang amanat, komunikatif dengan rakyat, serta cerdas.
Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Hatta Rajasa, bagian kedua:
1. Bagaimana pandangan partai Anda terhadap harapan agar parpol banyak melahirkan tokoh muda di Pemilu dan Pilpres 2014?
PAN adalah partai yang terus menerus melakukan regenerasi dan melahirkan pemimpin muda. Ini terlihat dari komposisi caleg PAN yang didominasi caleg muda. Regenerasi kepemimpinan di PAN pun berlangsung lancar, di mana pak Amien langsung mencontohkan regenerasi tersebut.
2. Menurut parpol Anda, sosok pemimpin Indonesia seperti apa yang akan bisa menjadi pemimpin yang solutif untuk berbagai masalah bangsa ini?
Salah satu syarat utamanya adalah harus berjuang sekeras dan sekonsisten mungkin melaksanakan Pasal 33 dan 34 UUD 45. Pemimpin perlu mempunyai karakter: jujur, memegang amanat, komunikatif dengan rakyat (dalam menyampaikan dan mendengar) serta cerdas. Harus pandai memaksimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Tidak anti asing, tapi juga tidak menjadi antek asing. Duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa manapun di dunia. Dan yang sangat fundamental, dia menjadi pemimpin bagi seluruh rakyat, mampu menjaga keharmonisan dalam kebhinekaan Indonesia.
3. Jika menjadi penguasa pemerintahan, lebih memilih kader sendiri atau kalangan profesional untuk mengisi jabatan eksekutif?
Dikotomi antara politisi vs profesional itu salah kaprah. Banyak politisi kader PAN yang diakui sebagai profesional yang sangat kapabel di bidangnya. Baik sebagai pengusaha, ekonom, ahli hukum, insinyur dan sebagainya. Di sisi lain, tidak sedikit kalangan yang disebut "profesional" ternyata bermain politik secara tidak santun.
Bagi PAN, kriteria utama untuk menduduki jabatan eksekutif adalah IKA, yaitu integritas, kapabilitas dan akseptabilitas. Apapun latar belakangnya, jika memenuhi IKA, yangbersangkutan akan didorong PAN untuk mengabdi dalam posisi eksekutif dll.
4. Bagaimana parpol anda memandang rangkap jabatan di pemerintahan dan parpol? Adakah komitmen dari parpol anda bahwa kader parpol yang terpilih menjadi pejabat negara tak akan memegang jabatan penting di parpol?
Ada kekeliruan pemahaman dalam masalah rangkap jabatan ini. Di sebagian negara maju seperti AS, Inggris, Australia, memang Presiden atau Perdana Menteri dan kabinetnya tidak menjadi eksekutif parpol. Namun, di sana eksekutif parpol lebih merupakan posisi manajerial, sehingga diisi oleh politisi yunior. Pemimpin politiknya tetap Presiden atau Perdana Menteri. Jadi sebenarnya terjadi rangkap jabatan. Yang penting adalah para pemimpin tersebut mampu memisahkan urusan negara dengan partai. Ada mekanisme check and balances yang mengoreksi mereka ketika mereka mencampuradukkan kedua urusan tersebut.
7. Mohon beri penjelasan ke masyarakat Indonesia mengenai sumber keuangan parpol, caleg dan capres (kalau ada) Anda?
Sumber dana utama PAN berasal dari kader dan simpatisan PAN sendiri. Simpatisan PAN ini masyarakat luas dari berbagai kalangan, mulai dari musisi dan seniman hingga kaum profesional dan pengusaha. PAN dengan ketat memenuhi persyaratan dalam Undang-Undang terkait keuangan partai ini.
(van/try)











































