"Brigadir P dan Brigadir M mereka mendengar letusan pertama dan diikuti suara 'astagfirulah' dari TKP," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (20/3/2014).
Setelah bunyi tembakan pertama, M kembali mendengar letusan senjata yang kedua kali, berselang 3 detik kemudian.
"Dan terdengar suara ambruk, diduga Pamudji roboh akibat tembakan," imbuh Rikwanto.
Suara letusan tembakan ini juga sempat didengar oleh Aiptu D, anggota Yanma yang sedang berjalan berjarak 30 meter dari TKP. Sebelum mendengar suara tembakan itu, D sempat menyaksikan detik-detik Susanto ditegur oleh Pamudji.
"AKBP Pamudji sempat menegur Brigadir S karena tidak mengenakan seragam dinas lengkap saat piket. S hanya mengenakan kaos dan celana dinas," jelas Rikwanto.
Masih disaksikan oleh D, Pamudji kemudian menyuruh S untuk memakai seragam dinasnya. Pamudji juga sempat mengambil revolver milik Susanto dari holster kirinya, lalu dimasukkan ke saku celana Pamudji.
"Kemudian S pergi keluar ruang piket Yanma, ke lokernya dan kembali lagi ke situ dalam keadaan berseragam," imbuh Rikwanto.
Sementara itu, D pergi meninggalkan TKP ketika Susanto mengganti baju di lokernya. Namun, jarak 30 meter dari TKP atau tepatnya di depan gedung Provost, D mendengar suara letusan. Ia lalu melapor ke anggota Provost dan selanjutnya berlari bersama ke ruang piket Yanma.
"Saat itu D dan anggota provost ini amprok dengan Susanto," ujarnya.
Saat bertemu muka dengan D yang merupakan komandan regu (Danru), Susanto langsung mengabarkan bahwa Pamudji bunuh diri.
"Dia (Susanto) bilang ke D 'Ndan (komandan)Kayanma (Pamudji) bunuh diri'. Keterangan bahwa Pamudji bunuh diri ini keluar dari mulut Susanto," pungkasnya.
Susanto kemudian diamankan provost. Saat diinterogasi, ia membantah telah menembak Pamudji. Namun, hasil uji laboratorium berkata lain. Pada lengan kanan Susanto, ditemukan bekas jelaga mesiu senjata revolvernya.
(mei/fjr)











































