Syafi'i Ma'arif: Banyak Ulama dan Kiai Merangkap Preman
Kamis, 09 Des 2004 12:42 WIB
Boyolali - Ketua PP Muhammadiyah, A Syafi'i Ma'arif, menyatakan nasib Indonesia ke depan tergantung pada keberhasilan gerakan anti-korupsi yang dicanangkan presiden sore nanti. Sedangkan untuk memberikan gambaran praktik KKN, dia melihat saat ini berkembang ateis praktis dan telah banyak ulama dan kiai yang merangkap sebagai preman."Kita akan mendukung sepenuhnya gerakan anti-KKN yang dilakukan Presiden tersebut. Ini kesempatan terakhir bagi kita semua untuk menyelamatkan negeri ini. Kalau kali ini tidak berhasil lagi, tidak tahu lagi bagaimana nasib bangsa dan negara ini selanjutnya. Kalau kita gagal memberantas KKN maka bukan tidak mungkin Indonesia ini natinya tinggal masuk museum sejarah."Demikian ditegaskan oleh Syafi'i Ma'arif saat memberikan sambutan pada pembukaan Muktamar ke-10 Nasyiatul Aisyiyah yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Kamis (9/12/2004).Syafi'i lantas memaparkan berbagai kerugian negara akibat praktik KKN. Di antara yang disebutnya adalah kerusakan 1,7 juta hektar hutan tiap tahunnya akibat illegal logging serta kerugian hayati yang mencapai Rp 50 triliun akibat tindakan itu. Dipaparkan pula berbagai dampak korupsi serta tindakan bagi koruptornya."Kita mengutuk tari telanjang dan kamaksiatan sebagai kemungkaran, tapi lupa menyebut bahwa korupsi pada dasarnya adalah kemungkaran besar. Di Cina koruptor dihukum mati, di sini belum. Para koruptor yang dibawa ke Nusa Kambangan itu baru yang kelas kecil, kelas miliaran. Yang kelas triliun belum diapa-apakan," ujarnya.Ateis PraktisTentang praktik KKN, tidak cuma itu yang disoroti Syafi'i dalam sambutan tanpa teks tersebut. Dia menyebut di Indonesia saat ini berkembang subur ateis praktis yang dilakukan oleh orang-orang yang paham agama tapi berkelakukan sebaliknya. Bahkan dia menilai banyak ulama dan kai yang telah merangkap sebagai preman."Sekarang ini banyak pimpinan agama, ulama dan kiai yang merangkap sebagai preman. Mereka sering mengeluarkan ajakan-ajakan moral dan fatwa-fatwa dengan dilengkapi penuh dalil-dalil namun di balik itu kelakuannya seperti orang yang tidak tahu tentang dasar agama," ujar Syafi'i dengan nada tinggi."Kalau boleh saya sebut, ateisme praktis sedang merebak di negri ini sekarang. Secara tampak luar mereka mengaku beriman tapi kelakuannya sehari-hari jauh lebih jelek dibanding orang yang tidak percaya dengan Tuhan sekalipun," ujar guru besar ilmu sejarah di Universitas Negri Yogyakarta tersebut.
(asy/)











































