"Saya melihat ini hanya strategi electoral Gerindra saja untuk menaikkan citra, untuk menaikkan minat massa mengambang kelas menengah perkotaan yang konsen pada isu korupsi," ujar pengamat politik dari UGM, Ari Dwipayana kepada detikcom, Rabu (19/3/2014).
Menurut Ari, yang terpenting bukan pasangan Prabowo dengan Abraham Samad. Namun apakah partai berlambang kepala Garuda itu mampu meraih 25 persen suara atau 20 persen kursi DPR dalam Pileg nanti. Kalau hasil pemilihan legislatif menunjukkan Gerindra gagal mencapai hal itu, tidak ada jalan lain Gerindra harus berkoalisi dengan partai lain.
Karena asumsinya, menurut Ari, jika Gerindra memajukan Prabowo-Samad itu artinya tidak ada koalisi politik, karena Samad bukan dari parpol.
"Saya enggak tahu, intinya Gerindra saat ini menghadapi tekanan karena harus mencapai 20 peren. Padahal elektabilitas partai lebih rendah dari Prabowo," imbuhnya.
Soal parpol mana yang akan digandeng Gerindra nantinya, Ari memprediksi kemungkinan Gerindra akan memainkan manuver dengan menggandeng Poros Tengah atau Partai Demokrat di tengah-tengah persaingan PDIP dan Golkar. Instrumen yang dibangun bisa dengan menggunakan sentimen tidak menginginkan PDIP atau Golkar.
"Jadi itu (wacana Prabowo-Abraham Samad) hanya strategi elektoral saja. Padahal Gerindra saat ini dalam tekanan harus lolos presidential threshold," pungkasnya.
(rmd/trq)











































