Pak Slamet menjual kerupuk ikan tengiri di tepi Jl. Joglo Raya, Jakarta Barat, untuk menghidupi keluarganya. Di kala sebagian orang dengan fisik sempurna malah ada yang menjadi pengemis, Pak Slamet justru memilih berjuang dengan gigih.
“Kalau bukan begini lalu gimana lagi mencari makan? Dulu saya menjadi tukang pijat tapi sepi, tidak ada yang manggil. Jadi saya diajak teman jualan kerupuk ini,” tutur Pak Slamet pada hari Jumat (14/3/2014).
Tubuh kurus itu dibalut kemeja dan jaket agar tak kedinginan diterpa angin sore. Mata Pak Slamet memang tak sanggup melihat, tapi mata hati Pak Slamet mengharuskan dia untuk membanting tulang.
“Saya juga nggak pernah itu dapat bantuan-bantuan dari pemerintah yang katanya setiap berapa bulan sekali itu dikasihkan. BLT ya? Atau apa namanya itu saya tidak pernah dapat sejak pertama dulu,” ungkap Pak Slamet.
“Tapi saya tidak mengemis untuk dapat itu. Biarlah katanya uang itu justru dinikmati orang yang mampu, yang penting saya masih bekerja dan uangnya cukup untuk makan keluarga,” lanjut Pak Slamet dengan nada optimis.
Sebentar kemudian terdengar sebuah kendaraan melaju yang berhenti dekat Pak Slamet. Terbangkitlah Pak Slamet dari duduk untuk menyambut pengendara yang mungkin adalah pembeli.
Pupus harapan Pak Slamet karena rupanya pengendara tersebut tak bermaksud membeli kerupuk. Hanya selang sekian menit kendaraan itu melesat kembali. Mungkin dia hanya sejenak menerima telepon kemudian menepi.
“Tidak selalu habis dalam sehari kerupuk yang saya jual ini. Biasanya dari pembuatnya saya ambil 30 bungkus, misalnya, nah itu bisa baru habis seminggu,” ujar Pak Slamet menghitung jumlah kerupuk sambil meraba.
Sebungkus besar kerupuk seharga Rp 13.000, sedangkan untuk bungkusan yang lebih kecil seharga Rp 7.000. Untuk kerupuk yang bungkus besar Pak Slamet harus setor Rp 11.500 ke pembuat dan Rp 5.500 untuk yang kecil.
“Belum tentu satu hari bawa pulang bersih Rp 50.000. Tapi kadang ada juga orang yang beli kerupuk tapi tidak mau dikasih kembalian,” kata Pak Slamet.
Sore sudah hampir menjadi malam, jam kerja Pak Slamet pun masih panjang. Mendengarkan bising deru kendaraan dan menghirup asap tebal menggumpal sudah jadi menu harian sang mata hati ini.
Tak mengharap bantuan berlebih apalagi belas kasihan dari orang lain, Pak Slamet tetap berjualan. Pak Slamet lebih menyerupai mata hati yang baru terbit di kala matahari mulai tenggelam.
(bpn/trq)











































