"Ini mau melayat almarhum," ujar Turmini, seorang PNS di Denma Polda Metro Jaya, kepada detikcom, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (19/3/2014) pukul 10.00 WIB.
Satu unit bus polisi sudah disiapkan untuk mengangkut rombongan pelayat. Pihak Polda Metro Jaya juga menyiapkan dua unit kereta jenazah untuk mengangkut jasad korban dari rumah duka ke TPU.
Dua orang anggota Sabhara Polda Metro Jaya berada di mobil kereta jenazah, membawa serta foto Pamudji yang sudah dibingkai. Di belakang mobil terdapat keranda mayat dan peralatan drum untuk upacara penghormatan pada pemakaman jenazah.
Selain anggota polisi, sejumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berdinas di Detasemen Markas, ikut melayat.
Sementara itu, pantauan detikcom, ruang Piket Yanma tampak sepi. Hanya ada dua orang anggota yang bertugas di dalam ruangan yang dilapisi kaca berfilm gelap itu.
Gedung Piket Yanma yang satu gedung dengan gedung Sabhara itu tampak sepi. Gedung tersebut menjadi saksi bisu kematian Kepala Denma Polda Metro Jaya yang mengejutkan itu.
Kematian Ajun Komisaris Besar Pamudji yang tidak wajar, Selasa (18/3/2014) malam tadi, meninggalkan duka yang mendalam bagi rekan seprofesi. Insiden tewasnya Kepala Detasemen Markas Polda Metro Jaya ini juga mengejutkan pihak kepolisian karena terjadi pada malah pisah sambut pimpinan 'Metro 1'.
Pamudji tewas setelah sebutir peluru menembus pelipisnya, saat mengawasi anggota Piket Yanma (Pelayanan Markas) Polda Metro Jaya. Pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya sendiri belum mau membuka mulut soal siapa pelaku penembakan mantan Kasat Lantas Polres Tangerang Kota itu.
Sementara informasi yang dihimpun detikcom, sebelum Pamudji ditemukan berlumuran darah di ruang Piket Yanma, ia terlibat cekcok dengan anak buahnya Brigadir Susanto. Pamudji sempat menegur Susanto karena tidak mengenakan seragam dinas saat melakukan penjagaan di piket Yanma.
(mei/fjr)











































